
YALA, THAILAND — Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang memperluas jejaring akademiknya di Asia Tenggara melalui Visiting Lecture dan forum pengembangan riset bersama di Faculty of Education, Yala Rajabhat University, Thailand, Selasa, 4 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut tidak hanya mempertemukan akademisi Indonesia dan Thailand dalam forum perkuliahan internasional. Delegasi FTIK juga membawa dua isu yang semakin penting bagi pendidikan Islam kontemporer, yakni pengembangan fikih yang responsif terhadap persoalan kemanusiaan serta pendidikan karakter berbasis kesadaran lingkungan dan nilai-nilai keagamaan.
Dosen FTIK UIN Walisongo, Dr. Ridwan, M.Ag., menyampaikan kuliah bertema transformasi pendidikan fikih kemanusiaan. Setelah perkuliahan, delegasi UIN Walisongo dan akademisi Yala Rajabhat University melaksanakan Focus Group Discussion untuk merancang penelitian bersama mengenai asesmen karakter ekoteologis bagi pelajar sekolah menengah di Indonesia dan Thailand.
Fikih Menjawab Realitas Masyarakat Majemuk
Dalam Visiting Lecture tersebut, Dr. Ridwan mempresentasikan makalah berjudul Transforming Humanitarian Fiqh Education: Dialoguing Taklifi and Wadh’i Laws Toward Contextual Reasoning and Social Harmony di hadapan sivitas akademika dan mahasiswa Pendidikan Agama Islam Yala Rajabhat University.
Makalah itu menawarkan pembaruan dalam cara mengajarkan fikih. Hukum taklifi, yang berkaitan dengan pembebanan dan tuntutan syariat, didialogkan dengan hukum wadh’i yang menjelaskan sebab, syarat, serta penghalang berlakunya suatu ketentuan hukum.
Pendekatan tersebut diperlukan agar peserta didik tidak hanya menghafal kategori hukum, tetapi juga mampu mempertimbangkan situasi sosial, kondisi manusia, dan akibat dari penerapan hukum. Penalaran semacam ini dinilai penting bagi masyarakat Asia Tenggara yang memiliki keragaman agama, budaya, bahasa, dan pengalaman sosial.
“Pendidikan fikih kemanusiaan harus mampu menjembatani teks keagamaan dengan realitas sosial. Melalui dialog hukum taklifi dan wadh’i, kita mendidik generasi masa depan untuk berpikir inklusif, responsif terhadap isu kemanusiaan, dan menjadi perekat harmoni sosial,” kata Dr. Ridwan.
Kuliah berlangsung secara interaktif. Mahasiswa Yala Rajabhat University terlibat dalam dialog mengenai hubungan antara ajaran keagamaan, pertimbangan kemanusiaan, dan kebutuhan untuk menjaga kehidupan bersama dalam masyarakat yang plural.
Kolaborator riset dari Yala Rajabhat University, Assist. Prof. Abdulhalim Ardae, M.Ed., menilai gagasan tersebut sejalan dengan nilai ethics, diversity, dan universal yang dikembangkan Faculty of Education.
“Materi Fikih Kemanusiaan yang dibawakan oleh tim peneliti UIN Walisongo menawarkan perspektif keagamaan yang sangat inklusif, humanistis, dan kontekstual. Ini bukan hanya relevan bagi pengembangan teori pendidikan Islam, tetapi juga menjadi jawaban konkret dalam merawat harmoni, menghargai keberagaman, dan memperkuat etika sosial di masyarakat plural seperti Asia Tenggara,” ujarnya.
Dari Ruang Kuliah ke Rancangan Riset Dua Negara
Agenda akademik tersebut berlanjut melalui Focus Group Discussion yang mempertemukan delegasi UIN Walisongo dengan jajaran akademisi Faculty of Education, Yala Rajabhat University.
Tim UIN Walisongo terdiri atas Dr. Ridwan, M.Ag., Dr. Agus Sutiyono, dan mahasiswa program doktor UIN Walisongo, Evita Nur Apriliana. Mereka membahas rancangan penelitian kolaboratif berjudul Developing an Ecotheological Character Assessment for Strengthening Socio-Religious Piety: A Study of Senior High Schools in Indonesia and Thailand.
Penelitian tersebut diarahkan untuk menghasilkan instrumen asesmen karakter berbasis ekoteologi bagi pelajar tingkat SMA atau sederajat. Ekoteologi menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan, etika sosial, dan hubungan manusia dengan alam.
Instrumen yang dirancang diharapkan dapat membantu peneliti dan lembaga pendidikan mengukur sejauh mana nilai keagamaan peserta didik tercermin dalam kepedulian terhadap lingkungan, tanggung jawab sosial, serta perilaku menjaga keberlanjutan kehidupan.
Kajian komparatif di Indonesia dan Thailand juga memungkinkan kedua institusi memahami persamaan dan perbedaan pembentukan karakter pelajar dalam konteks sosial-keagamaan yang berbeda. Dengan demikian, kerja sama tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi diarahkan pada pengembangan perangkat ilmiah yang dapat digunakan dalam penelitian dan praktik pendidikan.
Dekan FTIK UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag., memandang kegiatan tersebut sebagai bagian dari penguatan internasionalisasi fakultas melalui integrasi pendidikan, penelitian, dan jejaring akademik. “Internasionalisasi FTIK tidak hanya diukur dari kehadiran dosen dalam forum luar negeri, tetapi dari kontribusi keilmuan dan manfaat sosial yang dihasilkan. Gagasan mengenai fikih kemanusiaan dan ekoteologi menunjukkan bahwa pendidikan Islam harus mampu merespons keberagaman, persoalan lingkungan, dan tantangan kemanusiaan yang dihadapi masyarakat Asia Tenggara,” ujar Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag.
Menurutnya, keterlibatan dosen, peneliti, dan mahasiswa program doktor dalam satu agenda kolaboratif juga memperlihatkan pentingnya membangun ekosistem akademik yang menghubungkan pembelajaran, penelitian, publikasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Internasionalisasi yang Diukur dari Manfaat
Visiting Lecture dan diskusi riset tersebut menunjukkan bahwa kerja sama internasional dapat menjadi ruang untuk menguji relevansi ilmu pengetahuan terhadap persoalan masyarakat. Fikih kemanusiaan menawarkan kerangka untuk membaca ajaran agama dengan mempertimbangkan kondisi manusia, sedangkan ekoteologi memperluas tanggung jawab keagamaan hingga mencakup perlindungan lingkungan.
Kedua gagasan itu bertemu pada satu prinsip: pendidikan tidak cukup menghasilkan peserta didik yang menguasai pengetahuan, tetapi juga perlu membentuk kemampuan menimbang akibat moral, sosial, dan ekologis dari setiap tindakan.
Tindak lanjut penting dari kegiatan ini adalah penyempurnaan rancangan penelitian, pengembangan indikator asesmen karakter ekoteologis, serta pengumpulan data pada sekolah menengah di Indonesia dan Thailand. Kolaborasi ini juga membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan antara dosen, mahasiswa, peneliti, dan institusi pendidikan kedua negara. Pengalaman tersebut dapat direplikasi melalui perkuliahan bersama, penelitian lintas negara, publikasi kolaboratif, dan pengembangan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat multikultural.
Pada akhirnya, nilai sebuah kerja sama internasional tidak hanya terletak pada seberapa jauh akademisi bepergian, tetapi pada seberapa kuat gagasan yang dibawa mampu menjawab persoalan nyata. Melalui dialog fikih kemanusiaan dan pengembangan asesmen ekoteologis, FTIK UIN Walisongo dan Yala Rajabhat University mulai membangun jembatan pengetahuan yang menghubungkan agama, kemanusiaan, lingkungan, dan masa depan pendidikan Asia Tenggara.
