
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan kembali menorehkan prestasi melalui ajang akademik tingkat nasional. Firda Rahmatun Nuzula berhasil meraih Juara III Lomba Pidato dalam Olimpiade Bahasa Arab (OBA) yang diselenggarakan oleh HMPS Pendidikan Bahasa Arab UIN Sultan Syarif Kasim Riau pada 15–20 September 2026.
Capaian tersebut menjadi salah satu bentuk aktualisasi kompetensi mahasiswa PAI di luar ruang kuliah, khususnya dalam kemampuan berbahasa Arab, menyusun gagasan, serta menyampaikannya secara terstruktur di hadapan publik. Bagi fakultas, prestasi seperti ini tidak hanya dipandang sebagai pencapaian individual, tetapi juga sebagai bagian dari proses pembentukan lulusan yang memiliki kompetensi akademik, komunikatif, dan kepercayaan diri untuk berkompetisi di ruang yang lebih luas.
Ruang Kompetisi Nasional
Olimpiade Bahasa Arab menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan kebahasaan sekaligus kapasitas komunikasi akademik dan publik. Dalam kompetisi pidato, peserta tidak hanya dituntut memiliki penguasaan bahasa Arab yang baik, tetapi juga kemampuan mengorganisasi gagasan, membangun argumentasi, menjaga ketepatan pengucapan, dan menyampaikan pesan secara meyakinkan.
Firda Rahmatun Nuzula, sebagai mahasiswa PAI, berhasil menempatkan diri pada posisi Juara III dalam kompetisi tersebut. Ajang ini dilaksanakan bersamaan dengan rangkaian Milad Pendidikan Bahasa Arab ke-44 dan mengangkat tema “Merajut Kebersamaan, Menguatkan Solidaritas, Menyatukan Langkah Menuju PBA Berintegritas.”
Prestasi Firda menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Arab di perguruan tinggi memiliki ruang aktualisasi yang luas. Kemampuan berbahasa tidak berhenti pada penguasaan teori tata bahasa atau keterampilan membaca teks, tetapi juga berkembang menjadi kemampuan menyampaikan gagasan secara lisan, argumentatif, dan komunikatif.
Dalam konteks pendidikan calon pendidik bahasa Arab, pengalaman kompetitif semacam ini juga penting karena mahasiswa dituntut mengembangkan keterampilan yang nantinya relevan dengan profesi mereka, mulai dari kemampuan berbicara di depan kelas, menjelaskan gagasan secara sistematis, hingga membangun komunikasi yang efektif dengan peserta didik.
Dekan: Kompetensi Mahasiswa Harus Tumbuh Melampaui Ruang Kuliah
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag., menilai capaian mahasiswa dalam kompetisi akademik perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses pendidikan yang lebih luas.
Menurutnya, pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan mahasiswa yang memahami materi akademik, tetapi juga perlu memberikan ruang agar kompetensi tersebut tumbuh melalui pengalaman nyata, kompetisi, organisasi, pembinaan, dan interaksi dengan lingkungan akademik yang lebih luas.
“Prestasi yang diraih Firda menunjukkan bahwa kemampuan akademik mahasiswa perlu tumbuh bersama keberanian untuk mengembangkan potensi, kemampuan berbahasa, serta kepercayaan diri dalam ruang kompetisi. Pembelajaran bahasa Arab tidak berhenti pada penguasaan teori di ruang kuliah, tetapi juga harus tercermin dalam kemampuan berkomunikasi, menyampaikan gagasan, dan berkompetisi secara sehat,” ujar Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan mahasiswa perlu dilihat sebagai hasil dari proses yang melibatkan banyak unsur. Lingkungan program studi, dosen, kegiatan kemahasiswaan, pembinaan keagamaan, serta kemauan mahasiswa untuk berlatih secara konsisten merupakan bagian dari ekosistem yang mendukung perkembangan kompetensi.
“Capaian mahasiswa seperti ini menjadi pengingat bahwa fakultas perlu terus membangun ekosistem pembelajaran yang memberi ruang bagi pengembangan kemampuan akademik, karakter, keterampilan komunikasi, dan keberanian tampil di ruang publik. Prestasi bukan semata-mata hasil akhir, tetapi buah dari proses belajar dan pembinaan yang dilakukan secara konsisten,” tambahnya.
Pernyataan tersebut menempatkan prestasi mahasiswa bukan sekadar sebagai capaian kompetisi, tetapi juga sebagai indikator bahwa proses pendidikan berjalan ketika mahasiswa mampu mentransformasikan pengetahuan yang diperoleh menjadi performa nyata.
Bagi Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, capaian Firda juga memiliki relevansi langsung dengan profil lulusan. Seorang calon pendidik bahasa Arab tidak hanya membutuhkan penguasaan materi, tetapi juga kecakapan berbicara, kemampuan menyampaikan pesan, kreativitas, serta kesiapan menghadapi situasi komunikasi yang beragam.
Menuju Budaya Akademik yang Lebih Kuat
Prestasi Firda memberi pelajaran bahwa pengembangan mahasiswa membutuhkan lebih dari pembelajaran formal. Pengalaman mengikuti kompetisi dapat menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan, latihan, disiplin, pengelolaan tekanan, dan kemampuan beradaptasi.
Dalam lomba pidato, misalnya, keberhasilan tidak lahir hanya dari kemampuan menghafal teks. Peserta perlu memahami substansi pidato, menguasai struktur penyampaian, memperhatikan ketepatan bahasa, serta membangun koneksi dengan audiens. Proses tersebut menjadi latihan nyata bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi komunikatif yang kelak dibutuhkan ketika memasuki dunia pendidikan.
Capaian ini juga dapat menjadi referensi bagi mahasiswa lain bahwa prestasi akademik tidak selalu harus diwujudkan melalui kompetisi berbasis nilai atau karya tulis. Kemampuan berbicara, berbahasa, berdiskusi, mengajar, menulis, menerjemahkan, maupun menyampaikan gagasan juga merupakan bagian penting dari kompetensi akademik yang dapat dikembangkan secara serius.
Dari perspektif fakultas, prestasi mahasiswa seperti yang diraih Firda dapat menjadi momentum untuk memperkuat budaya akademik yang lebih partisipatif. Mahasiswa perlu memperoleh lebih banyak ruang untuk berlatih, bereksperimen, mengikuti kompetisi, dan mengembangkan potensinya berdasarkan bidang keilmuan masing-masing.
Pengalaman Firda menunjukkan bahwa ketika kompetensi yang dibangun di ruang akademik dipertemukan dengan keberanian untuk tampil dan proses latihan yang konsisten, mahasiswa dapat membawa pengetahuan yang dimilikinya ke ruang yang lebih luas. Pada titik itulah prestasi memiliki makna yang lebih besar: bukan hanya menghasilkan sertifikat atau peringkat, tetapi membentuk mahasiswa yang lebih siap menyampaikan gagasan, menghadapi tantangan, dan berkontribusi melalui bidang ilmu yang ditekuninya.
