SEMARANG — Transformasi digital dan perubahan sosial global menuntut pendidikan agama Islam tidak hanya beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi juga mampu membentuk calon pendidik yang kritis, inklusif, dan responsif terhadap keberagaman. Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang melalui Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) menggelar kuliah praktisi bertajuk “Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Era Digital dan Masyarakat Global”, Kamis (5/11/2026).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB di lingkungan Program Studi PAI FTIK UIN Walisongo Semarang ini menghadirkan Dr. Warsiyah, M.S.I., Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, sebagai narasumber. Melalui forum bertema pengalaman, strategi, dan praktik baik pengembangan pembelajaran PAI, mahasiswa diajak memahami keterkaitan antara inovasi kurikulum, moderasi beragama, kompetensi profesional guru, dan pengelolaan pendidikan tinggi yang berdaya saing.

Pendidikan Agama Islam Menghadapi Tantangan Baru di Era Digital

Perkembangan teknologi telah mengubah cara peserta didik memperoleh pengetahuan, berkomunikasi, dan membangun pandangan terhadap kehidupan sosial maupun keagamaan. Informasi keislaman kini dapat diakses melalui beragam platform digital, tetapi kemudahan tersebut tidak selalu disertai kemampuan untuk memeriksa kredibilitas sumber, memahami perbedaan pandangan, dan mengembangkan sikap beragama yang bertanggung jawab.

Situasi ini menghadirkan tantangan bagi perguruan tinggi penyelenggara pendidikan calon guru PAI. Penguasaan materi keagamaan tetap menjadi fondasi penting, tetapi perlu dilengkapi dengan literasi digital, keterampilan pedagogis, kemampuan berpikir kritis, dan kepekaan terhadap keragaman masyarakat.

Dalam konteks tersebut, kuliah praktisi yang diselenggarakan FTIK UIN Walisongo menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman pengembangan program studi dan praktik pendidikan di perguruan tinggi lain. Kehadiran praktisi dari Unissula Semarang membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh perspektif tentang kebutuhan kompetensi pendidik PAI di tengah perubahan lingkungan pembelajaran.

“Transformasi pendidikan agama Islam di era digital menuntut lahirnya calon guru yang tidak hanya unggul dalam keilmuan keislaman, tetapi juga adaptif terhadap teknologi, inovatif dalam pembelajaran, dan mampu menanamkan nilai-nilai moderasi beragama. Melalui kolaborasi akademik dan penguatan kompetensi, FTIK UIN Walisongo berkomitmen menyiapkan pendidik profesional yang berdaya saing global tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislaman,” tegas Dekan FTIK UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Abdur Rohman, M.Ag.

Persoalan yang dihadapi pendidikan agama Islam bukan semata-mata bagaimana menggunakan perangkat digital di ruang kelas, melainkan bagaimana memastikan teknologi mendukung pembelajaran yang bermakna. Tanpa kemampuan memilih sumber, merancang kegiatan, dan mengevaluasi pemahaman peserta didik, pemanfaatan teknologi berisiko hanya menggantikan media konvensional tanpa memperbaiki kualitas proses belajar.

Karena itu, pengembangan calon guru PAI perlu diarahkan pada kemampuan menghubungkan pengetahuan keislaman, kebutuhan peserta didik, perkembangan teknologi, dan realitas masyarakat yang semakin beragam.

Menghubungkan Inovasi Kurikulum, Moderasi Beragama, dan Kompetensi Guru

Kuliah praktisi ini mengangkat empat pokok pembahasan yang saling berkaitan, yakni inovasi kurikulum dan pembelajaran PAI di perguruan tinggi, integrasi nilai moderasi beragama, pengembangan kompetensi mahasiswa sebagai calon guru yang adaptif terhadap teknologi, serta strategi pengelolaan program studi yang unggul dan berdaya saing.

Pembahasan mengenai inovasi kurikulum menempatkan pembelajaran PAI dalam konteks perubahan kebutuhan pendidikan. Kurikulum tidak cukup dipahami sebagai susunan mata kuliah, tetapi juga sebagai kerangka untuk mengembangkan kompetensi yang dapat diterapkan dalam situasi pembelajaran nyata.

Salah satu pendekatan yang relevan ialah pembelajaran berbasis masalah kontekstual. Sebagai contoh, mahasiswa calon guru PAI dapat dilatih merancang kegiatan yang mengajak peserta didik menganalisis informasi keagamaan di media sosial, memeriksa sumber rujukan, membandingkan argumentasi, dan menyampaikan kesimpulan secara bertanggung jawab. Pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana literasi digital dapat dipadukan dengan penguatan pemahaman keislaman.

Aspek moderasi beragama juga memiliki kedudukan penting. Dalam masyarakat yang memiliki keragaman budaya, agama, dan pandangan, guru PAI perlu memiliki kemampuan membangun ruang belajar yang menghargai perbedaan tanpa mengabaikan substansi ajaran agama.

Integrasi moderasi beragama dalam pembelajaran dapat dikembangkan melalui diskusi kasus, pembelajaran kolaboratif, dan refleksi terhadap persoalan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, nilai toleransi, keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan tanggung jawab sosial tidak berhenti sebagai konsep, tetapi dapat diterjemahkan ke dalam pengalaman belajar.

Sementara itu, pengembangan kompetensi mahasiswa sebagai calon guru PAI menjadi perhatian tersendiri. Penguasaan aplikasi pembelajaran merupakan salah satu keterampilan yang diperlukan, tetapi kompetensi digital pendidik juga mencakup kemampuan memilih teknologi yang tepat, menyusun asesmen, menjaga etika penggunaan informasi, serta mempertimbangkan akses dan kebutuhan peserta didik.

Topik pengelolaan program studi turut memperluas cakupan diskusi. Inovasi pembelajaran memerlukan dukungan kelembagaan melalui pengembangan kurikulum, peningkatan kapasitas dosen, kerja sama antarlembaga, dan evaluasi mutu pembelajaran secara berkelanjutan.

Melalui kehadiran Dr. Warsiyah, M.S.I., forum ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman dan praktik baik pengembangan pembelajaran PAI dari perspektif pengelolaan program studi. Namun, contoh praktik spesifik yang dipaparkan, tanggapan peserta, dan hasil diskusi masih memerlukan dokumentasi kegiatan untuk dapat dilaporkan sebagai temuan faktual.

Mempersiapkan Guru PAI yang Adaptif, Inklusif, dan Berdaya Saing

Kuliah praktisi ini memperlihatkan pentingnya memperluas orientasi pendidikan calon guru PAI dari penguasaan pengetahuan menuju kemampuan menerapkan pengetahuan dalam situasi pendidikan yang terus berubah.

Salah satu pelajaran utamanya adalah bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu identik dengan penggunaan teknologi terbaru. Inovasi justru memperoleh makna ketika pendidik mampu memilih strategi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, dan persoalan nyata yang mereka hadapi.

Bagi mahasiswa PAI, perspektif tersebut dapat menjadi dasar untuk mengembangkan kemampuan merancang pembelajaran yang lebih partisipatif, memanfaatkan sumber belajar digital secara kritis, dan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan pengalaman sosial peserta didik.

Di tingkat kelembagaan, kerja sama akademik antara FTIK UIN Walisongo Semarang dan praktisi dari Unissula memberikan peluang pertukaran pengalaman mengenai pengembangan kurikulum dan pengelolaan pendidikan guru. Kolaborasi semacam ini dapat diperluas menjadi diskusi akademik, pengembangan perangkat pembelajaran, atau kegiatan peningkatan kompetensi, sepanjang terdapat kesepakatan dan tindak lanjut dari pihak terkait.

Keberhasilan kegiatan pengembangan kompetensi tidak cukup diukur dari terselenggaranya sebuah forum. Dampak yang lebih bermakna perlu dilihat melalui penerapan pengetahuan setelah kegiatan, misalnya kualitas rancangan pembelajaran mahasiswa, kemampuan memanfaatkan teknologi secara pedagogis, serta keterampilan mengintegrasikan moderasi beragama dalam praktik pendidikan.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan agama Islam tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat institusi mengadopsi teknologi, tetapi juga oleh kemampuannya menyiapkan pendidik yang bijaksana dalam menggunakan pengetahuan, peka terhadap perubahan sosial, dan mampu menjadikan pembelajaran agama sebagai ruang penguatan karakter serta tanggung jawab kemanusiaan. Di tengah derasnya arus informasi digital, guru PAI masa depan dituntut bukan sekadar mampu menjelaskan ajaran agama, melainkan juga membimbing peserta didik untuk berpikir jernih, menghargai perbedaan, dan menerapkan nilai-nilai keislaman secara bertanggung jawab dalam kehidupan nyata.