FTIK UIN Walisongo Online, Semarang – Kesempurnaan bukanlah syarat utama untuk menyelesaikan sebuah karya besar, melainkan konsistensi dan keberanian untuk terus melangkah. Pesan berharga inilah yang dibuktikan oleh Ulin Na’mah, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang. Gadis asal Purbalingga ini resmi didapuk sebagai peraih penghargaan Skripsi Terbaik di tingkat fakultas pada momentum wisuda periode Mei 2026.

Ulin mengaku sempat terkejut dan tidak pernah menyangka bahwa tugas akhir yang ia susun bakal meraih predikat terbaik. Sebab, sejak menginjakkan kaki di semester awal, ia tidak pernah menargetkan penghargaan tersebut. Prinsipnya sangat sederhana: memberikan usaha maksimal di setiap proses tanpa terlalu terbebani oleh ekspektasi hasil akhir.

“Jujur, awalnya saya kaget dan benar-benar tidak mengira. Bagi saya pribadi, skripsi terbaik ialah skripsi yang selesai dan tuntas sesuai dengan kaidah penelitian yang berlaku. Kita tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk bisa menyelesaikannya. Banyak mahasiswa yang stuck karena terlalu takut hasilnya tidak perfect. Padahal yang paling penting adalah tetap berjalan dan menjaga konsistensi,” ungkap Ulin dengan bijak.

Rasa haru langsung membuncah saat Ulin pertama kali mengabarkan prestasi ini kepada kakak-kakaknya melalui gawai. Sebagai anak rantau yang sejak kecil terbiasa dekat dengan keluarga, hidup mandiri di Semarang menjadi tantangan tersendiri bagi Ulin. Namun, dukungan penuh dari keluarga yang sederhana dan harmonis sukses memantapkan langkahnya hingga ke podium tertinggi.

“Saya bisa merasakan bahwa kebahagiaan mereka jauh lebih besar dibandingkan kebahagiaan saya sendiri,” kenangnya haru.

Inovasi yang membawa Ulin meraih penghargaan ini dituangkan dalam skripsi berjudul Facilitating Students’ Creative Skills Through the Use of Project Based Learning-Based Book Creator in Teaching English Writing (Memfasilitasi Keterampilan Kreatif Siswa melalui Penggunaan Book Creator Berbasis Pembelajaran Berbasis Proyek dalam Pembelajaran Menulis Bahasa Inggris).

Ide riset ini lahir dari kepekaannya saat menjalani Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) 1. Ia melihat banyak siswa kesulitan mengekspresikan kreativitas dalam kelas menulis bahasa Inggris, padahal kreativitas adalah kecakapan krusial di abad ke-21.

Lewat integrasi teknologi aplikasi Book Creator, Ulin menemukan bahwa media mutakhir sekalipun tetap membutuhkan instruksi terarah (scaffolding) dari guru agar potensi kreatif siswa melejit secara optimal.

Riset aplikatif ini juga menjadi cerminan nyata dari implementasi visi Unity of Sciences (Kesatuan Ilmu) UIN Walisongo Semarang. Bagi Ulin, ilmu tidak boleh mandek di menara gading akademik, melainkan harus membumi dan menjawab kebutuhan nyata manusia—dalam hal ini, mengawinkan teori pendidikan, teknologi, dan pembentukan karakter berpikir kritis siswa di kelas.

Keberhasilan Ulin merampungkan skripsi berkualitas tanpa terjebak deadline rupanya dipengaruhi oleh manajemen waktunya yang disiplin. Ia mengaku sebagai tipe mahasiswa yang gelisah jika menunda pekerjaan. Menariknya, di tengah kesibukan akademik, Ulin juga aktif mengasah soft skills dengan bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bidang bahasa dan musik.

Bagi Ulin, keaktifan berorganisasi justru melatihnya menjadi pribadi yang percaya diri dan adaptif, sekaligus mematahkan mitos bahwa organisasi dapat menurunkan IPK.

Saat ditanya mengenai sosok yang membentuk karakter literasinya, Ulin mengenang momen berkesan di semester satu saat mengontrak mata kuliah Moderasi Beragama yang diampu oleh Mr. Agus. Kedisiplinan sang dosen yang mewajibkan mahasiswa membaca dan membedah buku di depan kelas setiap pertemuan sempat membuatnya kewalahan, namun hal itu justru berhasil menumbuhkan kecintaannya pada dunia literasi.

Sementara untuk figur teladan secara umum, Ulin sangat mengagumi jurnalis Najwa Shihab sebagai representasi perempuan cerdas, kritis, mandiri, dan berwawasan luas.

Di akhir sesi, ia membagikan sebuah pesan pemantik semangat bagi adik-adik tingkatnya di Kampus Kemanusiaan dan Peradaban.

“Tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa menjadi yang terbaik. Sometimes, all you need is go on dan terus memberikan usaha terbaik dalam setiap proses. Jangan terlalu keras pada diri sendiri ketika mengalami kesulitan. Fokus saja pada perkembangan diri dan jangan pernah berhenti belajar,” pungkasnya memotivasi.