Yala, Thailand Selatan — Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI) dan Magister Pendidikan Bahasa Arab (S2 PBA) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang memperluas pengabdian akademiknya ke Thailand Selatan dengan mendampingi dosen dan tenaga pengajar dalam penulisan disertasi serta artikel jurnal terakreditasi Sinta 2. Kegiatan dilaksanakan pada 6 dan 8 Agustus 2026 di Jamiah Islam Syech Daud Al-Fathoni (JISDA) dan Madrasah Hj. Harun, Yala, dengan melibatkan 10 dosen dan tenaga pengajar sebagai peserta.
Program tersebut diarahkan pada persoalan yang dihadapi peserta dalam penyelesaian karya ilmiah, khususnya mereka yang sedang menempuh pendidikan doktoral. Selain memperkuat kemampuan menulis secara sistematis, pendampingan juga memberi ruang bagi peserta untuk mendiskusikan secara langsung persoalan penelitian, pemanfaatan referensi berbahasa Arab, serta pengembangan hasil penelitian menuju publikasi ilmiah.
Menjawab Persoalan Nyata di Balik Penulisan Disertasi
Kegiatan pengabdian berlangsung pada dua lokasi pendidikan Islam di Thailand Selatan. Pendampingan pertama dilaksanakan di Jamiah Islam Syech Daud Al-Fathoni pada Kamis, 6 Agustus 2026, kemudian dilanjutkan di Madrasah Hj. Harun, Yala, pada 8 Agustus 2026. Sasaran kegiatan adalah dosen JISDA dan tenaga pengajar Madrasah Hj. Harun yang berjumlah 10 orang.
Tim pendamping dari UIN Walisongo Semarang melibatkan Dr. Nasirudin, M.Ag., Dr. Alis Asikin, M.A., dan Dr. Nasikhin, M.Pd. Fokus utama yang dibawa bukan sebatas pemahaman mengenai format tulisan ilmiah, tetapi bagaimana peserta dapat menghadapi persoalan konkret dalam penyusunan disertasi dan artikel jurnal.
Dr. Nasirudin mengatakan program tersebut terutama ditujukan untuk membantu peserta yang sedang menjalani pendidikan doktoral dan menghadapi kendala dalam penyusunan karya ilmiah.
“Kami ingin membantu mereka memahami tata cara menulis karya ilmiah disertasi dengan benar dan sistematis,” ujarnya.
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag., menegaskan bahwa pengabdian internasional perlu ditempatkan sebagai sarana penguatan kapasitas akademik yang memberikan manfaat nyata bagi mitra.
“Pengabdian internasional ini kami arahkan tidak sekadar sebagai perluasan jejaring kelembagaan, tetapi sebagai proses berbagi kapasitas akademik yang menjawab kebutuhan nyata mitra. Ketika dosen dan guru mampu menyelesaikan penelitian, mengembangkan sumber-sumber keislaman secara akademik, dan mempublikasikan gagasannya secara lebih luas, kolaborasi antarperguruan tinggi akan menghasilkan dampak yang jauh lebih berkelanjutan,” kata Prof. Abdul Rohman.
Pernyataan tersebut menempatkan kolaborasi internasional bukan hanya pada dimensi hubungan antarlembaga, melainkan pada peningkatan kemampuan individu yang menjalankan pendidikan dan penelitian. Dalam konteks ini, keberhasilan program dapat dilihat dari sejauh mana peserta memperoleh pengetahuan dan jalan keluar atas persoalan akademik yang benar-benar mereka hadapi.
Dari Referensi Arab hingga Jalan Keluar Penyelesaian Tugas Akhir
Salah satu fokus pendampingan adalah meningkatkan kemampuan peserta menemukan dan memanfaatkan sumber berbahasa Arab. Dr. Alis Asikin menjelaskan bahwa sumber tersebut dapat berasal dari Al-Qur’an, hadis, maupun berbagai teks Arab klasik yang relevan dengan penelitian.
Kemampuan menemukan sumber, menurutnya, perlu diikuti kecakapan menggunakannya secara akademik. Referensi tidak cukup hanya ditempatkan sebagai kutipan, tetapi perlu diolah dan dikembangkan sehingga memiliki posisi yang jelas dalam konstruksi teoritis penelitian.
“Harapannya, referensi tersebut dapat dikutip dengan tepat dan dikembangkan menjadi grand theory dalam penelitian disertasi maupun artikel jurnal Sinta 2,” jelas Dr. Alis.
Model pendampingan tatap muka juga memungkinkan persoalan peserta dibicarakan secara lebih spesifik. Hafidzi, M.Pd., dosen JISDA yang sekaligus merupakan mahasiswa S3 UIN Walisongo Semarang, merasakan manfaat tersebut ketika dapat menyampaikan secara langsung hambatan dalam penyelesaian tugas akhirnya.
“Selain diberikan pelatihan tata tulis ilmiah, kami juga bisa menyampaikan langsung kendala dalam penyelesaian tugas akhir. Alhamdulillah menemukan jalan keluarnya karena dibimbing langsung oleh dosen dari UIN Walisongo secara tatap muka,” katanya.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa pendampingan akademik menjadi lebih bermakna ketika peserta tidak hanya menerima materi, tetapi memiliki kesempatan membawa kasus dan masalah penelitian yang sedang mereka kerjakan. Proses tersebut menjadikan kegiatan pengabdian sebagai ruang konsultasi akademik, bukan sekadar transfer pengetahuan satu arah.
Membangun Kolaborasi yang Berangkat dari Penguatan Manusia
Pengabdian di Thailand Selatan menunjukkan bahwa internasionalisasi pendidikan tinggi dapat dibangun melalui kebutuhan yang sangat konkret: meningkatkan kemampuan dosen dan guru untuk meneliti, menulis, memanfaatkan sumber keilmuan secara bertanggung jawab, dan menyampaikan hasil pemikirannya melalui publikasi akademik.
Bagi perguruan tinggi dan lembaga pendidikan Islam, pola semacam ini juga memberikan pelajaran bahwa kerja sama internasional tidak harus berhenti pada seremoni atau penandatanganan hubungan kelembagaan. Kolaborasi memperoleh makna ketika pengetahuan yang dipertukarkan dapat membantu menyelesaikan persoalan profesional dan akademik yang dihadapi mitra.
Dokumen kegiatan menyebut program ini diarahkan untuk memperkuat kolaborasi akademik, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pendidikan Islam di Thailand Selatan, sekaligus mendukung proses internasionalisasi UIN Walisongo Semarang.
Dalam perspektif yang lebih luas, kemampuan seorang dosen atau guru menyelesaikan penelitian dan menghasilkan karya ilmiah tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik individual. Pengetahuan yang lahir dari penelitian dapat kembali masuk ke ruang kelas, memperkuat tradisi keilmuan institusi, dan memperluas pertukaran gagasan antara komunitas akademik Indonesia dan Thailand Selatan.
Karena itu, nilai utama pengabdian di Yala bukan terletak pada jauhnya jarak yang ditempuh tim akademik, melainkan pada kedekatan program dengan persoalan yang benar-benar dihadapi peserta. Dari meja penulisan disertasi hingga publikasi ilmiah, kolaborasi menjadi bermakna ketika mampu mengubah kendala akademik menjadi kapasitas baru yang dapat terus dikembangkan.
