Persiapan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan memasuki tahap penguatan koordinasi dengan menempatkan kerja tim, kesiapan teknis, dan pembentukan karakter mahasiswa sebagai perhatian utama. Dalam kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 11 Agustus 2026 di Aula Fakultas FTIK Lantai III, pimpinan fakultas bersama Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) menegaskan bahwa PBAK bukan sekadar agenda penyambutan mahasiswa baru, melainkan pintu awal untuk mengenalkan budaya akademik, organisasi, dan kehidupan kampus.
Persiapan tersebut melibatkan Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag., Prof. Dr. Fihris, M.Ag, Wakil Dekan III Dr. Karnadi, M.Pd., Kepala Bagian Umum Siti Khotimah, S.Ag., M.M., Para Kaprodi dan Sekprodi serta Ketua DEMA Fakultas Gilang Dzaky Mubarok. Koordinasi dilakukan untuk memastikan pelaksanaan PBAK tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu menjadi proses awal bagi mahasiswa baru untuk mengenali lingkungan kampus sekaligus membangun kemampuan beradaptasi, bekerja sama, dan berorganisasi.
PBAK sebagai Gerbang Memahami Kehidupan Kampus
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag. menempatkan PBAK sebagai bagian penting dalam perjalanan awal mahasiswa di perguruan tinggi. Menurutnya, keberhasilan kegiatan tersebut memerlukan dukungan berbagai unsur di lingkungan kampus karena mahasiswa baru akan memperoleh kesan, pengetahuan, dan pengalaman awal tentang kehidupan akademik melalui proses tersebut.
“PBAK adalah kegiatan yang super penting. Semua warga kampus bisa mendukung kegiatan ini. PBAK adalah pintu gerbang masuk bagi mahasiswa,” kata Abdul Rohman.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa PBAK memiliki fungsi yang lebih luas daripada mengenalkan gedung, program studi, atau struktur organisasi kampus. Kegiatan ini menjadi ruang pertama bagi mahasiswa untuk memahami budaya belajar di perguruan tinggi, pola interaksi dengan sivitas akademika, serta tanggung jawab yang melekat pada status mereka sebagai mahasiswa.
Pada tahap awal kehidupan kampus, mahasiswa tidak hanya menghadapi perubahan sistem pembelajaran, tetapi juga tuntutan untuk lebih mandiri dalam mengambil keputusan, mengelola waktu, membangun jejaring, dan mengembangkan kemampuan sosial. Karena itu, kualitas PBAK dapat berpengaruh terhadap kemampuan mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan pendidikan tinggi.
Wakil Dekan III Dr. Karnadi, M.Pd. turut menekankan pentingnya aktivitas organisasi sebagai ruang pembelajaran mahasiswa di luar kelas. Ia mendorong mahasiswa untuk melihat organisasi bukan sebagai beban tambahan, melainkan sebagai kegiatan yang dapat dinikmati sekaligus digunakan untuk membangun kemampuan yang berguna bagi masa depan.
“Organisasi jadikan sebuah hobi untuk kesuksesan masa depan,” ujarnya.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman kemahasiswaan dapat menjadi bagian dari proses pembentukan kapasitas mahasiswa. Melalui organisasi, mahasiswa berhadapan langsung dengan persoalan komunikasi, pembagian tanggung jawab, kepemimpinan, penyelesaian masalah, hingga pengambilan keputusan secara kolektif kemampuan yang tidak selalu dapat diperoleh hanya melalui pembelajaran di ruang kelas.
Dari Kesiapan Teknis hingga Budaya Kerja “Superteam”
Persiapan PBAK juga diarahkan pada aspek yang lebih konkret. Kepala Bagian Umum Siti Khotimah, S.Ag., M.M. memberikan penjelasan mengenai kebutuhan teknis sekaligus penguatan kesiapan DEMA Fakultas sebagai salah satu unsur yang berperan dalam pelaksanaan kegiatan.
Pembahasan teknis menjadi penting karena pelaksanaan PBAK melibatkan kurang lebih 900an mahasiswa/peserta dengan berbagai kebutuhan koordinasi. Kesiapan panitia tidak hanya berkaitan dengan susunan kegiatan, tetapi juga pembagian tugas, komunikasi antartim, pengelolaan peserta, kesiapan fasilitas, serta kemampuan merespons persoalan yang mungkin muncul selama kegiatan berlangsung.
Ketua DEMA Fakultas Gilang Dzaky Mubarok kemudian menerjemahkan kebutuhan tersebut ke dalam prinsip kerja kolektif. Dalam penjelasannya mengenai pembagian kerja dan teknis pelaksanaan PBAK, ia menekankan bahwa keberhasilan kegiatan tidak dapat bergantung pada satu orang.
“Kita bukan Superman, tapi superteam yang saling mendukung satu sama lain untuk kesuksesan PBAK,” kata Gilang.
Gagasan “superteam” tersebut menjadi penting dalam kegiatan yang melibatkan banyak unsur dengan tanggung jawab berbeda. Setiap bagian membutuhkan koordinasi dan kemampuan untuk saling melengkapi. Ketika satu bagian menghadapi kendala, bagian lain tidak cukup hanya menjalankan tugasnya sendiri, tetapi perlu memiliki kesadaran untuk membantu menjaga keseluruhan kegiatan tetap berjalan.
Gilang juga menjelaskan secara rinci mekanisme dan teknis kerja selama PBAK, mulai dari [rincian tugas perlu dilengkapi] hingga [mekanisme kegiatan perlu dilengkapi]. Penjelasan tersebut diarahkan agar setiap anggota memahami batas tanggung jawab, jalur koordinasi, dan langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi di lapangan.
Dengan pendekatan tersebut, persiapan PBAK sekaligus menjadi proses belajar organisasi bagi mahasiswa yang terlibat sebagai panitia. Mereka tidak hanya mempersiapkan kegiatan bagi mahasiswa baru, tetapi juga belajar tentang kepemimpinan, disiplin, komunikasi, tanggung jawab, dan penyelesaian persoalan secara bersama.
Dari Penyambutan Mahasiswa Baru Menuju Pembentukan Karakter
Persiapan PBAK memberikan pelajaran bahwa kualitas sebuah kegiatan kemahasiswaan tidak ditentukan oleh kemeriahan acara, melainkan oleh seberapa jauh kegiatan tersebut memberi pengalaman yang bermakna bagi peserta. Bagi mahasiswa baru, pengalaman pertama memasuki perguruan tinggi dapat menjadi titik penting dalam membangun cara pandang terhadap proses belajar dan kehidupan kampus.
Karena itu, PBAK mempunyai peluang besar untuk diarahkan menjadi ruang edukasi yang mempertemukan mahasiswa dengan nilai akademik, etika, tanggung jawab sosial, budaya organisasi, serta kemampuan bekerja bersama. Pendekatan tersebut juga dapat membantu mahasiswa memahami bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berbicara tentang memperoleh nilai dan menyelesaikan mata kuliah.
Bagi mahasiswa yang terlibat sebagai panitia, proses mempersiapkan PBAK menjadi laboratorium kepemimpinan dalam skala nyata. Mereka dituntut menerjemahkan rencana menjadi tindakan, berkomunikasi dengan berbagai pihak, menghadapi perbedaan pandangan, serta tetap menjaga tujuan bersama di tengah keterbatasan dan tekanan pelaksanaan kegiatan.
Prinsip yang disampaikan dalam persiapan ini menjadikan organisasi sebagai ruang belajar dan menggantikan ketergantungan pada sosok “Superman” dengan kekuatan “superteam” juga relevan untuk kehidupan mahasiswa setelah PBAK selesai. Dunia akademik maupun dunia kerja semakin membutuhkan individu yang tidak hanya memiliki kemampuan personal, tetapi juga mampu berkolaborasi dan bertanggung jawab terhadap hasil bersama.
PBAK pada akhirnya merupakan pertemuan pertama mahasiswa dengan budaya kampus yang akan mereka jalani selama beberapa tahun ke depan. Jika pintu gerbang itu dibangun melalui pengalaman yang edukatif, terorganisasi, dan manusiawi, mahasiswa baru tidak hanya akan mengetahui tempat mereka belajar, tetapi juga mulai memahami bagaimana mereka dapat tumbuh, berkontribusi, dan menjadi bagian dari komunitas akademik yang lebih besar.
