SEMARANG — Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari satu generasi, satu pemikiran, atau satu bentuk perjuangan. Di belakangnya terdapat keberanian melawan penjajahan, tradisi membaca dan berpikir, gerakan pendidikan, pengorganisasian masyarakat, hingga kemampuan menyatukan perbedaan menjadi cita-cita bersama. Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan, semangat itu dibawa kembali ke ruang kampus melalui Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang 2026.
Berlangsung dalam rangkaian PBAK UIN Walisongo pada 18–20 Agustus 2026, kegiatan tahun ini mengangkat tema “Merajut Budaya Akademik untuk Kemanusiaan dan Peradaban.” Sebanyak 4.623 mahasiswa baru mengikuti PBAK pada tingkat universitas, sementara jumlah peserta khusus FTIK 925 Mahasiswa. Orientasi tidak hanya diarahkan untuk mengenalkan lingkungan kampus, tetapi juga membangun kesiapan akademik, karakter, kemampuan berorganisasi, kepedulian sosial, dan keberanian mahasiswa mengembangkan potensinya.
Kampus sebagai Ruang Belajar untuk Menjadi Manusia Merdeka
Memasuki perguruan tinggi berarti memasuki ruang kehidupan yang berbeda. Mahasiswa tidak lagi cukup menjadi penerima informasi. Mereka dituntut membaca lebih luas, mempertanyakan secara kritis, membangun argumentasi berdasarkan pengetahuan, serta bertanggung jawab terhadap pilihan dan gagasannya.
FTIK sejak persiapan PBAK menempatkan persoalan tersebut sebagai perhatian penting. Mahasiswa baru perlu merasa nyaman dengan program studi yang dipilih sekaligus memiliki kesiapan menghadapi pola belajar perguruan tinggi. Karena itu, PBAK diarahkan untuk mengenalkan budaya akademik dan intelektual, tidak berhenti pada orientasi tempat, struktur organisasi, atau rangkaian kegiatan seremonial.
Dekan FTIK UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag., mengingatkan mahasiswa baru bahwa kesempatan menempuh pendidikan tinggi harus digunakan untuk mengembangkan seluruh kapasitas diri. Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag sebagai Dekan FTIK tercantum dalam struktur pimpinan fakultas saat ini.
“Manfaatkanlah kesempatan yang sangat berharga ini. Maksimalkan dan kembangkan potensi, baik akademik maupun nonakademik,” pesan Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag.
Pesan itu menegaskan bahwa masa kuliah tidak semestinya hanya menghasilkan transkrip nilai. Ruang kelas memberi fondasi keilmuan, tetapi organisasi, diskusi, penelitian, pengabdian, seni, olahraga, kepemimpinan, dan interaksi sosial turut membentuk kematangan seorang mahasiswa. Di titik inilah PBAK memperoleh makna yang lebih luas yakni mengajak mereka memikirkan untuk apa mereka belajar dan jati diri seperti apa yang ingin mereka bentuk selama berada di perguruan tinggi.
Dari Tan Malaka, Kartini, Tjokroaminoto hingga Soekarno-Hatta
Pesan mengenai mahasiswa dan kemerdekaan berpikir juga mendapat penekanan dalam materi yang disampaikan Muhammad Anan Alkautsar, yang dalam data kegiatan tercatat sebagai Menteri Dalam Negeri pada organisasi kemahasiswaan.
“Mahasiswa yang merdeka bukan hanya bebas berbicara, tetapi berani berpikir kritis, memeriksa kebenaran, dan mempertanggungjawabkan gagasannya kepada masyarakat.” Ujar Muhammad Anan
Tan Malaka menekankan bahwa manusia harus berani berpikir secara rasional dan mandiri. Gagasannya tentang kemerdekaan berpikir mengajarkan bahwa seseorang perlu menggunakan akal sehat dan nalar dalam memahami berbagai persoalan. Pesan ini relevan bagi mahasiswa agar tidak mudah menerima informasi begitu saja, tetapi membiasakan diri untuk berpikir kritis, memeriksa kebenaran, dan berani menyampaikan pendapat berdasarkan alasan yang kuat.
R.A. Kartini memperlihatkan bahwa perjuangan juga dapat dimulai dari keberanian mempertanyakan ketidakadilan. Pendidikan baginya membuka ruang bagi perempuan untuk tumbuh, berpikir, dan menentukan masa depannya. Warisannya menunjukkan bahwa ilmu memperoleh makna ketika mampu memperluas kesempatan manusia.
Ki Hadjar Dewantara membawa perjuangan ke dunia pendidikan. Melalui Taman Siswa, pendidikan ditempatkan sebagai jalan menuju kemerdekaan manusia, kebangsaan, kebudayaan, dan kemanusiaan. Prinsip kemerdekaan menjadi salah satu dasar pendidikan yang diperjuangkannya.
H.O.S. Tjokroaminoto menunjukkan kekuatan organisasi dan pendidikan politik generasi muda. Perjuangan tidak cukup dilakukan seorang diri; ia membutuhkan kader, keberanian berdiskusi, kemampuan membaca keadaan, dan kesediaan membangun gerakan bersama. Dari lingkungan pemikirannya tumbuh figur-figur yang kemudian memainkan peran besar dalam sejarah bangsa.
Lalu hadir Soekarno, yang membawa gagasan persatuan dan nasionalisme menjadi kekuatan mobilisasi bangsa. Ia memahami bahwa perjuangan menghadapi kolonialisme membutuhkan kemampuan menyatukan beragam kelompok ke dalam cita-cita Indonesia. Bersama Mohammad Hatta, Soekarno kemudian menandatangani naskah Proklamasi atas nama bangsa Indonesia sebelum Proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945.
Jika Soekarno dikenal melalui kemampuan membangkitkan keberanian kolektif dan mengartikulasikan nasionalisme, Mohammad Hatta menunjukkan sisi lain perjuangan: ketekunan intelektual, organisasi, demokrasi, dan pembangunan ekonomi yang berpihak kepada rakyat. Hatta dikenal sebagai proklamator, negarawan, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, sekaligus tokoh yang gagasannya kuat dalam pengembangan koperasi dan demokrasi ekonomi.
Tan Malaka mengajarkan keberanian berpikir. Kartini menunjukkan kekuatan pendidikan dalam melawan ketimpangan. Ki Hadjar Dewantara memperjuangkan kemerdekaan melalui pendidikan. Tjokroaminoto menunjukkan pentingnya organisasi dan kaderisasi. Soekarno memberi teladan tentang keberanian menyatukan dan menggerakkan bangsa. Hatta memperlihatkan ketekunan intelektual, demokrasi, integritas, dan keberpihakan terhadap ekonomi rakyat. Mereka hidup dalam zaman dan jalan perjuangan yang berbeda. Karena itu, mahasiswa tidak perlu meniru bentuk perjuangan mereka secara harfiah. Yang perlu diteruskan adalah nilai di balik perjuangan tersebut.
Estafet Itu Kini Berada di Tangan Mahasiswa
Mahasiswa baru FTIK memasuki kampus pada zaman yang sangat berbeda dengan generasi Soekarno, Hatta, Kartini, Tan Malaka, Ki Hadjar Dewantara, dan Tjokroaminoto. Kolonialisme fisik telah berlalu, tetapi generasi sekarang menghadapi persoalan baru: ketimpangan pendidikan, disinformasi, krisis lingkungan, perubahan teknologi, kecerdasan buatan, intoleransi, kekerasan, kemiskinan, serta kesenjangan akses terhadap pengetahuan.
Ketua DEMA FTIK, Gilang Dzaky Mubarok, menegaskan bahwa semangat perjuangan mahasiswa hari ini perlu diwujudkan dalam tindakan yang sesuai dengan tantangan zaman.
“Estafet perjuangan tidak berarti kita harus mengulang cara perjuangan para pendahulu. Tugas mahasiswa hari ini adalah berani membaca persoalan zamannya, berpikir kritis, mengembangkan ilmu, dan menggunakan pengetahuan itu untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Gilang Dzaky Mubarok.
Karena itu, makna melanjutkan estafet perjuangan juga berubah.
Mahasiswa tidak dituntut mengulang apa yang dilakukan para pendahulu, melainkan menjawab persoalan zamannya dengan ilmu pengetahuan dan keberanian moral. Calon guru dapat berjuang dengan menghadirkan pendidikan yang lebih manusiawi. Peneliti dapat berjuang dengan menghasilkan pengetahuan yang menjawab persoalan masyarakat. Aktivis mahasiswa dapat berjuang dengan menjaga ruang kritik tetap berbasis data dan etika. Pemimpin organisasi dapat berjuang melalui transparansi, keberpihakan, dan pelayanan kepada sesama mahasiswa.
Karena itulah, keberhasilan PBAK tidak dapat diukur hanya dari ramainya kegiatan atau selesainya agenda selama tiga hari. Ukurannya baru terlihat ketika mahasiswa mulai berani membaca lebih banyak, berdiskusi secara sehat, mempertanyakan persoalan secara kritis, menghasilkan karya, mengembangkan kemampuan akademik dan nonakademik, serta hadir ketika masyarakat membutuhkan pengetahuan mereka.
PBAK pada akhirnya hanyalah pintu masuk. Setelah itu, pilihan berada pada setiap mahasiswa: menjadi penonton perubahan atau ikut mengambil bagian di dalamnya.
