SEMARANG — Pendidikan Islam di tengah masyarakat multikultural menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari penguatan identitas keagamaan, perbedaan budaya, hingga perkembangan kecerdasan buatan dan penyebaran informasi keagamaan di ruang digital. Menanggapi tantangan tersebut, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang menghadirkan perspektif pendidikan lintas budaya melalui Guest Lecture bertajuk “Rethinking Islamic Education for a Multicultural World: Identity, Inclusivity, and Global Competence”, Jumat (6/11/2026).
Bertempat di Aula Lantai 3 Dekanat FTIK, Kampus 2 UIN Walisongo Semarang, kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pukul 13.00–17.00 WIB ini menghadirkan Desi Setiyawati Ayumsari, kandidat doktor University of Aberdeen, Skotlandia, sebagai pembicara utama, bersama Wawaysadhya, M.Phil., dosen filsafat sekaligus kandidat doktor di universitas yang sama. Melalui pengalaman akademik dan interaksi langsung dengan masyarakat multikultural di Inggris, keduanya mengajak sivitas akademika melihat pendidikan Islam sebagai ruang penguatan identitas, dialog antarbudaya, dan pengembangan kompetensi global.
Pendidikan Islam di Tengah Perubahan Identitas dan Keberagaman Global
Perjumpaan masyarakat dengan berbagai bahasa, agama, dan tradisi semakin intensif seiring meningkatnya mobilitas internasional dan komunikasi digital. Kondisi ini menuntut lembaga pendidikan Islam untuk membekali calon pendidik dengan kemampuan memahami perbedaan tanpa kehilangan landasan nilai dan identitas keagamaannya.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam perkuliahan tamu FTIK UIN Walisongo. Pendidikan Islam dibahas dalam kaitannya dengan masyarakat multikultural, identitas keislaman dalam dunia yang saling terhubung, serta pentingnya keterbukaan terhadap pengalaman sosial dan kebudayaan yang berbeda.
Dekan FTIK UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Abdur Rohman, M.Ag., memandang penguatan wawasan internasional sebagai bagian penting dalam pengembangan pendidikan calon guru. Perspektif global diperlukan agar pendidikan Islam mampu merespons perubahan sosial secara kontekstual, sekaligus mempertahankan nilai kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Sementara itu, Moh Syakur, M.S.I., dosen International Class Program (ICP) yang memberikan sambutan mewakili Wakil Dekan I, menekankan bahwa internasionalisasi pendidikan tidak harus selalu diwujudkan melalui mobilitas fisik ke luar negeri.
“Internationalization is not merely about going abroad, but about bringing global perspectives into our classrooms,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menempatkan ruang kelas sebagai titik awal internasionalisasi. Kehadiran akademisi dengan pengalaman lintas negara memungkinkan mahasiswa mengenal perspektif internasional, membandingkan praktik pendidikan, dan membangun kemampuan komunikasi antarbudaya tanpa harus terlebih dahulu mengikuti program pendidikan di luar negeri.
Belajar dari Skotlandia dan Jepang: Ketika Pendidikan Menjadi Jembatan Antarbudaya
Dalam pemaparannya, Desi Setiyawati Ayumsari mengangkat perkembangan komunitas Muslim di Skotlandia sebagai contoh bagaimana identitas keagamaan tumbuh dan berinteraksi di tengah masyarakat yang beragam.
Materi yang disampaikan menelusuri jejak keberadaan Muslim di Skotlandia sejak awal abad ke-16, perkembangan komunitas pelaut dan pekerja Muslim asal Asia Selatan pada abad ke-19, hingga terbentuknya organisasi dan pusat kegiatan keagamaan pada abad ke-20. Kehadiran Glasgow Central Mosque dan Edinburgh Central Mosque menjadi bagian dari gambaran perkembangan kehidupan Muslim di negara tersebut.
Pembahasan juga memperkenalkan sosok Lady Evelyn Cobbold, yang dikenal dengan nama Muslim Zainab, sebagai salah satu figur perempuan dalam sejarah Islam di Inggris. Kisah tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara Islam dan masyarakat Eropa memiliki akar sejarah yang lebih panjang dan beragam daripada yang sering digambarkan melalui perdebatan kontemporer.
Melalui pengalaman komunitas Muslim Skotlandia, peserta diajak memahami bahwa identitas Islam dan partisipasi dalam masyarakat multikultural dapat berjalan beriringan. Kehidupan beragama tidak berlangsung dalam ruang sosial yang terpisah, melainkan terus berinteraksi dengan budaya, sejarah, dan lingkungan masyarakat setempat.
Perspektif lintas budaya semakin konkret ketika Desi membagikan pengalamannya mengajar bahasa Jepang secara daring kepada pelajar di Inggris. Berbekal pendidikan sarjana dan magister Bahasa dan Sastra Jepang dari Universitas Indonesia, serta pengalaman sebagai pendidik bahasa, ia memperlihatkan bahwa pembelajaran bahasa memiliki dimensi kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan dari penguasaan kosakata dan tata bahasa.
“Teaching a language is also teaching a culture,” demikian salah satu gagasan utama yang ditampilkan dalam materi perkuliahannya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan, kemampuan, dan latar belakang bahasa peserta didik. Dalam mengajarkan ungkapan bahasa Jepang, misalnya, pendidik perlu menjelaskan nilai budaya dan hubungan sosial yang melatarbelakangi penggunaannya.
Pendekatan ini relevan bagi pendidikan Islam. Seorang guru tidak cukup hanya menguasai substansi materi keagamaan, tetapi juga perlu memahami latar belakang peserta didik, cara mereka membangun makna, dan konteks sosial tempat pengetahuan tersebut diterapkan.
Selain pengalaman mengajar bahasa, materi perkuliahan juga menyoroti tantangan yang akan dihadapi calon pendidik Islam dalam lingkungan global. Enam persoalan utama yang diidentifikasi meliputi Islamofobia dan stereotip keagamaan, perbedaan budaya dan generasi, misinformasi digital dan narasi agama di internet, transformasi teknologi dan kecerdasan buatan, persoalan identitas generasi muda Muslim, serta kebutuhan menyeimbangkan nilai agama dengan partisipasi dalam masyarakat multikultural.
Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa kompetensi pendidik masa depan tidak dapat dibatasi pada kemampuan menyampaikan materi. Pendidik juga memerlukan literasi digital, kepekaan sosial, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan membangun komunikasi yang menghargai perbedaan.
Kehadiran Wawaysadhya, M.Phil., sebagai pembicara pendamping turut memperkuat dimensi akademik kegiatan melalui latar belakangnya dalam bidang filsafat dan penelitian doktoral di University of Aberdeen. Perspektif filosofis menjadi relevan dalam pembahasan hubungan antara identitas, nilai keagamaan, dan kehidupan bersama di tengah keberagaman.
Membawa Perspektif Dunia ke Ruang Kelas Pendidikan Islam
Salah satu pelajaran penting dari perkuliahan tamu ini adalah bahwa internasionalisasi pendidikan tidak semata-mata diukur melalui banyaknya mahasiswa yang belajar di luar negeri atau kerja sama antaruniversitas. Internasionalisasi juga berkaitan dengan perubahan cara berpikir, pendekatan pembelajaran, dan kemampuan sivitas akademika membaca persoalan pendidikan dalam konteks global.
Pengalaman pendidikan lintas negara yang dibagikan dalam kegiatan ini memberikan sejumlah implikasi praktis bagi calon guru. Pembelajaran dapat dikembangkan melalui penggunaan studi kasus internasional, perbandingan budaya, diskusi tentang identitas dan keberagaman, serta pemanfaatan teknologi untuk mempertemukan peserta didik dengan pengalaman dari berbagai masyarakat.
Dalam konteks pendidikan Islam, pendekatan tersebut membuka ruang bagi pengembangan pembelajaran yang tetap berlandaskan nilai keislaman, sekaligus memberi perhatian terhadap realitas sosial peserta didik. Perbedaan budaya tidak harus dipandang sebagai hambatan, melainkan dapat dijadikan sumber pembelajaran untuk menumbuhkan empati, kemampuan berdialog, dan tanggung jawab sosial.
Tantangan teknologi juga menghadirkan kebutuhan baru. Ketika informasi keagamaan semakin mudah diproduksi dan disebarluaskan melalui platform digital, calon pendidik perlu memiliki kemampuan memeriksa sumber informasi, membedakan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan dari narasi yang menyesatkan, serta membimbing peserta didik menggunakan kecerdasan buatan secara kritis dan bertanggung jawab.
Bagi FTIK UIN Walisongo Semarang, tema yang dibahas dalam kegiatan ini relevan dengan penguatan kompetensi calon pendidik di era global. Pengalaman dari Skotlandia dan praktik pengajaran bahasa Jepang di Inggris memberikan contoh bahwa pendidikan lintas budaya memerlukan keterbukaan, kemampuan beradaptasi, serta pemahaman terhadap nilai dan identitas setiap individu.
Pembelajaran dari kegiatan ini dapat menjadi bahan pengembangan diskusi akademik, pengayaan materi perkuliahan, dan penguatan kompetensi antarbudaya dalam pendidikan calon guru. Penerapannya secara berkelanjutan memerlukan integrasi ke dalam praktik pembelajaran dan evaluasi terhadap kemampuan mahasiswa memahami persoalan multikultural secara kritis.
Pada akhirnya, tantangan pendidikan Islam di dunia multikultural bukan sekadar bagaimana mempertahankan identitas di tengah perubahan, melainkan bagaimana menjadikan identitas tersebut sebagai landasan untuk memahami orang lain, membangun dialog, dan mengambil peran secara bertanggung jawab dalam masyarakat global. Dari ruang kuliah di Semarang, pengalaman lintas budaya di Skotlandia dan Inggris menghadirkan satu pelajaran mendasar: wawasan global dapat dimulai dari ruang kelas, ketika pendidikan memberi tempat bagi pengetahuan, keberagaman, dan kemanusiaan untuk saling bertemu.
