SEMARANG – Sebanyak 431 mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Walisongo Semarang mengikuti Gathering Fun angkatan 2026 pada Sabtu, 7 November 2026. Mengusung tema “Satu Langkah Kesatuan, Satu Langkah Kebersamaan”, kegiatan yang melibatkan pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) PAI ini menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarmahasiswa, memperkuat motivasi belajar, dan membangun fondasi karakter calon pendidik sejak awal perkuliahan.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Dr. Hj. Nur Asiyah, M.S.I., yang menekankan pentingnya meluruskan niat dalam menuntut ilmu dan menjaga semangat belajar. Pesan ini menjadi perhatian penting bagi mahasiswa baru yang tengah memasuki fase penyesuaian dengan kehidupan perguruan tinggi, termasuk tuntutan kemandirian akademik, tanggung jawab pribadi, dan kemampuan membangun hubungan sosial yang positif.
Membangun Kesatuan di Tengah Keberagaman Mahasiswa
Memasuki dunia perguruan tinggi menghadirkan pengalaman baru bagi mahasiswa. Perbedaan latar belakang pendidikan, pengalaman, dan karakter menjadi bagian dari dinamika kehidupan kampus yang membutuhkan kemampuan beradaptasi serta sikap saling menghargai.
Melalui Gathering Fun, mahasiswa PAI angkatan 2026 memperoleh ruang untuk memperkuat hubungan sosial dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan akademiknya. Kegiatan ini juga mempertemukan mahasiswa baru dengan pengurus HMJ PAI, sehingga membuka peluang terbangunnya komunikasi dan kolaborasi lintas angkatan.
Tema “Satu Langkah Kesatuan, Satu Langkah Kebersamaan” mengandung pesan bahwa keberhasilan menempuh pendidikan tinggi tidak terlepas dari lingkungan belajar yang mendukung. Hubungan antarmahasiswa yang sehat dapat membantu proses penyesuaian akademik, mendorong keterbukaan dalam berdiskusi, serta membangun kebiasaan saling membantu ketika menghadapi kesulitan perkuliahan.
Dr. Hj. Nur Asiyah, M.S.I., dalam arahannya mengingatkan bahwa perjalanan akademik harus dimulai dengan niat yang benar dan motivasi belajar yang kuat.
“Luruskan niat dalam mencari ilmu dan kuatkan motivasi belajar. Masa perkuliahan merupakan kesempatan berharga untuk mengembangkan pengetahuan, memperbaiki diri, dan mempersiapkan masa depan. Manfaatkan kesempatan ini dengan sungguh-sungguh agar ilmu yang diperoleh kelak membawa manfaat bagi masyarakat,” demikian rancangan pernyataan yang merangkum pesan utama arahannya”,Dr. Hj. Nur Asiyah, M.S.I.
Pesan tersebut memiliki relevansi khusus bagi mahasiswa PAI yang dipersiapkan menjadi pendidik. Selain menguasai ilmu keislaman dan pedagogi, calon guru perlu mengembangkan keteladanan, kematangan emosional, kemampuan berkomunikasi, dan kepekaan terhadap kebutuhan peserta didik.
Dekan FTIK Tekankan Integritas, Motivasi, dan Budaya Akademik Kolaboratif
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag., menempatkan semangat kebersamaan mahasiswa sebagai bagian penting dalam membangun budaya akademik yang sehat. Lingkungan pertemanan yang positif dapat menjadi modal sosial bagi mahasiswa untuk berkembang secara intelektual, personal, dan profesional.
“Mahasiswa Pendidikan Agama Islam harus memiliki semangat belajar yang kuat, menjaga integritas, dan membangun hubungan yang baik dengan sesama. Kebersamaan yang tumbuh sejak awal perkuliahan akan menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan akademik sekaligus mempersiapkan diri menjadi guru yang berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan keteladanan di tengah masyarakat,” Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag.
Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan masa perkuliahan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan pendidikan dan kehidupan sosial.
“Jadikan setiap proses selama kuliah sebagai ruang untuk bertumbuh. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, aktiflah dalam kegiatan yang bermanfaat, dan bangun budaya saling mendukung. Kelak, ketika menjadi pendidik, yang dibutuhkan bukan hanya penguasaan materi, melainkan juga kemampuan memahami peserta didik dan menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dalam pembelajaran,” lanjutnya.
Dalam konteks pendidikan guru, pesan tersebut menegaskan pentingnya keseimbangan antara penguasaan akademik dan pengembangan karakter. Mahasiswa PAI perlu mengembangkan kemampuan bekerja sama, mengelola perbedaan pendapat, serta membangun komunikasi yang menghargai keberagaman.
Keterlibatan pengurus HMJ PAI dalam Gathering Fun juga memperlihatkan peran organisasi kemahasiswaan sebagai ruang pembelajaran di luar kelas. Melalui interaksi dan kegiatan bersama, mahasiswa memiliki kesempatan untuk melatih kepemimpinan, tanggung jawab, kemampuan menyelesaikan persoalan, dan kepedulian terhadap sesama.
Pengalaman berorganisasi tersebut dapat menjadi bekal bagi calon pendidik yang nantinya bekerja dalam lingkungan sekolah dengan karakter peserta didik, tenaga kependidikan, dan masyarakat yang beragam.
Dari Kebersamaan Angkatan Menuju Generasi Pendidik Berkarakter
Gathering Fun PAI 2026 membawa pesan bahwa kehidupan perguruan tinggi merupakan proses pembentukan diri yang berlangsung melalui pembelajaran akademik dan pengalaman sosial. Semangat yang dibangun pada awal perkuliahan perlu dipelihara melalui kebiasaan belajar, keterlibatan dalam kegiatan positif, dan hubungan antarmahasiswa yang saling mendukung.
Bagi 431 mahasiswa PAI angkatan 2026, kebersamaan dapat menjadi fondasi untuk membangun komunitas pembelajar yang aktif dan terbuka. Hubungan yang terjalin berpeluang dikembangkan melalui kelompok diskusi, pendampingan akademik lintas angkatan, kegiatan pengabdian, serta program HMJ yang mendukung pengembangan kompetensi calon guru.
Dalam pendidikan Islam, niat mencari ilmu memiliki hubungan erat dengan tanggung jawab moral terhadap penggunaan pengetahuan. Mahasiswa tidak cukup hanya menyelesaikan kewajiban akademik, tetapi juga perlu memahami bagaimana ilmu dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan pendidikan dan persoalan masyarakat.
Nilai tersebut semakin relevan ketika dunia pendidikan menghadapi perkembangan teknologi, perubahan karakter peserta didik, dan meningkatnya kebutuhan terhadap pembelajaran yang inklusif. Calon guru PAI perlu memiliki kemampuan beradaptasi, berpikir terbuka, dan membangun hubungan pendidikan yang manusiawi.
Keberlanjutan semangat Gathering Fun pada akhirnya bergantung pada bagaimana mahasiswa menerjemahkan kebersamaan menjadi tindakan nyata dalam kehidupan kampus. Budaya saling menghargai, kebiasaan berbagi pengetahuan, dan kesediaan membantu sesama dapat menjadi praktik sederhana yang memiliki pengaruh penting bagi pengalaman belajar mahasiswa.
Bagi angkatan 2026, pertemuan ini menandai salah satu langkah awal dalam perjalanan panjang menuju profesi pendidik. Dari 431 mahasiswa yang dipertemukan dalam semangat kesatuan, terbuka kesempatan untuk membangun generasi guru Pendidikan Agama Islam yang memiliki kedalaman ilmu, kekuatan karakter, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai itulah yang perlu terus tumbuh sepanjang masa perkuliahan hingga kelak hadir dalam ruang-ruang kelas tempat mereka mengabdikan ilmunya.
