FTIK

FTIK UIN Walisongo–JISDA Perluas Akses Studi dan Jejaring Pendidikan Islam Asia Tenggara

YALA, THAILAND — Hubungan pendidikan Islam antara Indonesia dan Thailand Selatan memasuki tahap baru. Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Magister Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang, memperkuat kerja sama akademik dengan Jamiah Islam Syech Daud Al-Fathoni (JISDA), Yala, Thailand Selatan, melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA), Kamis, 6 Agustus 2026.

Kerja sama tersebut dirancang tidak berhenti pada hubungan kelembagaan. Salah satu manfaat konkretnya adalah membuka peluang bagi alumni JISDA untuk melanjutkan studi pada Program S2 PAI atau S2 PBA UIN Walisongo Semarang dengan beasiswa sebesar 50 persen dari biaya SPP. Kedua lembaga juga membuka ruang kolaborasi dalam pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta riset bersama.

Dari Jejaring Akademik Menuju Akses Pendidikan Lintas Negara

Kemitraan UIN Walisongo dan JISDA dibangun di atas hubungan akademik yang telah berkembang antara Indonesia dan komunitas Muslim di Thailand Selatan. Penandatanganan MoA di Kampus JISDA menjadi langkah untuk membawa hubungan yang selama ini banyak bertumpu pada jejaring alumni menuju kolaborasi kelembagaan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Delegasi UIN Walisongo Semarang dalam agenda tersebut antara lain Ketua Program Studi S2 Pendidikan Agama Islam, Dr. Nasirudin, M.Ag., dan Ketua Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Arab, Dr. Alis Asikin, M.A. Dari pihak JISDA, kerja sama mendapat sambutan jajaran akademik, termasuk Wakil Rektor Bidang Akademik Dr. Ruslan.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk menjawab kebutuhan yang lebih substantif daripada sekadar menambah jumlah kemitraan internasional, yakni memperluas akses studi lanjut, meningkatkan mutu pendidikan, mempertemukan pengalaman akademik antardua negara, serta membuka peluang mobilitas mahasiswa dan dosen.

Nasirudin menjelaskan bahwa kemitraan dibangun dengan prinsip saling menguntungkan bagi kedua lembaga, terutama dalam meningkatkan mutu pendidikan dan mendorong internasionalisasi.

“MoA ini juga menjadi bagian penting agar para alumni JISDA dapat melanjutkan studi di Program S2 PAI atau S2 PBA di UIN Walisongo dan mendapatkan beasiswa sebesar 50% dari biaya SPP,” ujar Nasirudin.

Skema tersebut menjadi salah satu bentuk paling konkret dari kerja sama. Bagi lulusan JISDA, kesempatan menempuh pendidikan pascasarjana di Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada hubungan personal atau pencarian informasi secara individual, tetapi mulai memperoleh dukungan melalui jalur kelembagaan.

Pada tingkat fakultas, kemitraan tersebut juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem akademik internasional FTIK UIN Walisongo Semarang. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag., memandang kerja sama internasional perlu diarahkan pada program yang dapat menghasilkan manfaat akademik yang nyata bagi mahasiswa, dosen, dan masyarakat.

“Kerja sama dengan JISDA perlu diarahkan pada program yang memberikan manfaat akademik secara nyata. Membuka ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk belajar dari pengalaman pendidikan Islam di kawasan Asia Tenggara melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kami ingin kerja sama ini berkembang menjadi aktivitas bersama yang terukur dan berkelanjutan,” kata Abdul Rohman.

Perspektif tersebut menempatkan internasionalisasi bukan semata sebagai perluasan jaringan institusi, melainkan sebagai proses pertukaran pengetahuan. Kolaborasi lintas negara menjadi relevan ketika dosen dapat bekerja bersama, mahasiswa memperoleh pengalaman akademik baru, penelitian menjawab persoalan nyata, dan hasil pendidikan memberi dampak lebih luas kepada masyarakat.

Jejaring Alumni Menjadi Jembatan Kolaborasi

Hubungan UIN Walisongo dengan Thailand Selatan bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Alis Asikin mengungkapkan bahwa sejumlah alumni S1 UIN Walisongo telah berkiprah di berbagai lembaga pendidikan Islam di Thailand Selatan, baik yang berasal dari Program Studi PAI, PBA, maupun program studi lainnya.

Kehadiran alumni tersebut menjadi modal sosial dan akademik yang penting. Mereka tidak hanya bekerja sebagai tenaga pendidik, tetapi juga menjadi penghubung pengetahuan, pengalaman pendidikan, dan budaya akademik antara Indonesia dan Thailand Selatan.

“Kerja sama ini menguatkan peran dan kesungguhan UIN Walisongo Semarang untuk terus berkolaborasi dengan umat Muslim di Thailand Selatan,” jelas Alis.

Dari pihak JISDA, Ruslan melihat hubungan antarkedua institusi telah memiliki fondasi yang kuat melalui jejaring alumni. Sejumlah lulusan UIN Walisongo telah bekerja sebagai tenaga pengajar di JISDA, sementara sebagian lainnya masih menempuh pendidikan doktoral di UIN Walisongo Semarang.

“Kami sangat berterima kasih karena UIN Walisongo Semarang telah berkenan bersilaturahim ke JISDA. Tentu banyak alumni UIN Walisongo yang telah menjadi tenaga pengajar di sini, ataupun saat ini masih menempuh studi program doktor di UIN Walisongo Semarang. Kedatangan ini menjadi bagian yang sangat penting dalam rangka menguatkan kolaborasi internasional antara JISDA dan UIN Walisongo Semarang,” ungkap Ruslan.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa mobilitas akademik telah berlangsung sebelum kesepakatan formal ditandatangani. Alumni menjadi jembatan yang menghubungkan kedua institusi, sementara MoA memberikan kerangka agar hubungan tersebut dapat dikembangkan menjadi program-program yang lebih terencana dan dapat diukur hasilnya.

Ruang lingkup kerja sama mencakup tiga bidang utama Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Ke depan, kemitraan diarahkan pada pertukaran dosen dan mahasiswa, penelitian kolaboratif, serta program pengabdian masyarakat lintas negara.

Implementasi tersebut penting karena kualitas internasionalisasi perguruan tinggi tidak cukup diukur dari jumlah dokumen kerja sama yang ditandatangani. Ukuran yang lebih substantif adalah seberapa besar kolaborasi menghasilkan mobilitas akademik, produksi pengetahuan bersama, peningkatan kompetensi dosen dan mahasiswa, serta manfaat bagi masyarakat.

Dari MoA Menuju Ekosistem Pendidikan Islam Asia Tenggara

Kemitraan UIN Walisongo dan JISDA juga memperlihatkan perubahan pola kerja sama pendidikan tinggi Islam di kawasan Asia Tenggara. Kolaborasi lintas negara dapat bergerak dari kunjungan institusional menuju pertukaran sumber daya akademik, studi lanjut, penelitian bersama, dan keterhubungan antarkomunitas pendidikan.

JISDA sendiri telah memiliki pengalaman membangun jejaring internasional. Salah seorang sesepuh JISDA yang juga menjadi dosen di lembaga tersebut menjelaskan bahwa selama ini JISDA telah menjalin kerja sama dengan Al-Azhar di Mesir dan belakangan memperluas kemitraan dengan universitas di negara-negara tetangga, termasuk Indonesia.

Perluasan jejaring tersebut memperlihatkan bahwa Asia Tenggara memiliki ruang strategis untuk membangun ekosistem pendidikan Islam yang lebih terhubung. Indonesia dan Thailand Selatan memang memiliki konteks sosial dan budaya yang berbeda, tetapi keduanya memiliki ruang perjumpaan melalui pendidikan, bahasa, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.

Dalam konteks itu, pertukaran dosen dapat mempertemukan perspektif dan pengalaman pembelajaran dari dua negara. Mobilitas mahasiswa dapat memperluas wawasan akademik sekaligus pemahaman lintas budaya. Penelitian bersama dapat membantu memetakan persoalan pendidikan Islam dalam konteks regional, sementara program pengabdian kepada masyarakat berpotensi membawa hasil-hasil akademik lebih dekat kepada kebutuhan komunitas.

Beasiswa 50 persen bagi alumni JISDA juga memberi dimensi yang lebih konkret terhadap kerja sama tersebut. Kesempatan studi lanjut dapat memperkuat pengembangan sumber daya manusia di Thailand Selatan sekaligus memperluas keberagaman akademik di lingkungan program pascasarjana UIN Walisongo.

Namun, penandatanganan MoA baru merupakan titik awal. Tantangan selanjutnya adalah memastikan setiap kesepakatan bergerak menuju implementasi. Realisasi skema beasiswa, jumlah mahasiswa dan dosen yang terlibat dalam mobilitas akademik, penelitian yang dihasilkan bersama, serta program pengabdian lintas negara dapat menjadi indikator untuk menilai keberlanjutan kemitraan.

Pengalaman UIN Walisongo dan JISDA menunjukkan bahwa internasionalisasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dari proyek berskala besar. Ia dapat tumbuh dari alumni yang mengajar lintas negara, mahasiswa yang melanjutkan pendidikan, dosen yang bertukar pengetahuan, serta lembaga yang mampu mengubah jejaring personal menjadi kolaborasi institusional.

 

Exit mobile version