FTIK

FORDETAK 2026 Perkuat Kolaborasi Pendidikan Islam Menuju PTKIN Berkelas Dunia

BANJARMASIN — Perkembangan kecerdasan buatan, perubahan sistem pendidikan guru, dan meningkatnya tuntutan daya saing global membuat Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) tidak lagi dapat bekerja sendiri-sendiri. Kolaborasi antarkampus, inovasi pembelajaran, serta penguatan kualitas guru menjadi kebutuhan strategis untuk memastikan pendidikan Islam tetap relevan tanpa kehilangan identitas keilmuan dan nilai etiknya.

Isu tersebut menjadi perhatian utama dalam Pertemuan Tahunan Forum Dekan Tarbiyah dan Keguruan (FORDETAK) PTKIN se-Indonesia 2026 yang berlangsung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 12–14 Agustus 2026. UIN Antasari Banjarmasin menjadi tuan rumah forum bertema “Strengthening Collaboration and Innovation in Islamic Teacher Education Toward World-Class PTKIN”, yang mempertemukan delegasi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan dari berbagai wilayah Indonesia. Rangkaian resmi forum mencakup seminar internasional dan nasional, rapat komisi, serta pleno yang menghasilkan sejumlah rumusan pengembangan akademik antarkampus.

Pendidikan Guru Menghadapi Tantangan Baru

FORDETAK 2026 berlangsung ketika perguruan tinggi keguruan Islam menghadapi perubahan yang semakin cepat. Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), transformasi digital, perubahan pola belajar generasi muda, hingga menurunnya minat terhadap sejumlah program studi kependidikan menuntut PTKIN melakukan pembaruan yang lebih substantif. Tantangannya bukan semata menggunakan teknologi baru, tetapi memastikan teknologi memperkuat kualitas pembelajaran dan kapasitas guru.

Rektor UIN Antasari Banjarmasin, Prof. Dr. Hj. Nida Mufidah, M.Pd., dalam pembukaan forum menekankan perlunya Fakultas Tarbiyah dan Keguruan terus berbenah agar mampu menghasilkan tenaga pendidik profesional yang relevan dengan perkembangan zaman. Isu etika pemanfaatan AI di lingkungan akademik dan strategi meningkatkan kembali daya tarik program studi kependidikan juga masuk dalam pembahasan strategis forum.

Ketua FORDETAK periode 2024–2026, H. Fakri Hamdani, M.Hum., M.Res., Ph.D., menempatkan kualitas guru sebagai salah satu persoalan mendasar yang tidak dapat ditangani secara parsial.

“Penguatan kualitas guru harus menjadi perhatian bersama, karena kualitas pendidikan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidiknya.”

Pernyataan itu menemukan relevansinya dalam pembahasan mengenai Pendidikan Profesi Guru (PPG). Forum membicarakan berbagai persoalan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan profesi, mulai dari regulasi dan pembiayaan, kurikulum dan pola pelaksanaan, hingga keberlanjutan program dan posisi PTKIN dalam menyiapkan guru profesional.

Persoalan PPG menjadi penting karena profesionalitas guru tidak selesai ketika peserta memperoleh sertifikat pendidik. Kompetensi yang dibangun melalui pendidikan profesi harus dapat dilihat dari perubahan nyata dalam cara guru mengelola kelas, mendampingi siswa, menggunakan teknologi, dan membangun karakter peserta didik.

Pandangan tersebut sejalan dengan penekanan Prof. Dr. H. Abdul Rohman, M.Ag., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang. Dalam pengukuhan 2.655 guru profesional PPG UIN Walisongo pada 27 Juni 2026, ia menegaskan:

“Guru profesional tidak cukup hanya lulus secara administratif. Yang lebih penting adalah bagaimana kompetensi itu hidup dalam praktik pembelajaran, dalam cara guru mendampingi peserta didik, dan dalam kontribusi nyata bagi madrasah serta masyarakat.”

Pernyataan tersebut memberikan ukuran yang konkret terhadap pembahasan PPG dalam FORDETAK: keberhasilan pendidikan profesi pada akhirnya harus dinilai dari kualitas pembelajaran yang diterima peserta didik, bukan hanya dari jumlah guru yang menyelesaikan program.

Dari PPG dan AI Menuju Kolaborasi Akademik Global

FORDETAK 2026 tidak hanya memetakan persoalan, tetapi juga mulai mengarahkan kolaborasi menuju program yang lebih konkret. Sidang komisi menghasilkan pembahasan mengenai penguatan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), program fast track, double degree antarkampus, serta perluasan Implementation Agreement antar-PTKIN untuk mendukung indikator kinerja sekaligus membuka jalan menuju internasionalisasi.

Langkah ini menunjukkan perubahan penting dalam cara perguruan tinggi memaknai kolaborasi. Kerja sama tidak lagi cukup berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi perlu diterjemahkan menjadi pertukaran akademik, pengembangan kurikulum, riset bersama, mobilitas dosen dan mahasiswa, hingga publikasi ilmiah yang melibatkan lebih dari satu institusi.

Arah tersebut sejalan dengan kebijakan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama. Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis), Prof. Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, M.A., sebelumnya menegaskan bahwa peningkatan posisi PTKI dalam percaturan pendidikan tinggi internasional membutuhkan kerja lintas institusi.

“Kolaborasi tidak lagi menjadi pilihan, tetapi keharusan untuk memperkuat posisi PTKI di tingkat global.”

Pernyataan Prof. Dr. Phil. H. Syahiron Syamsuddin, MA itu disampaikan pada April 2026 dalam konteks penguatan sumber daya manusia dan ekspansi global PTKI. Kementerian Agama saat itu menempatkan peningkatan kemampuan bahasa asing, penguatan publikasi internasional, program pembibitan dosen, serta visiting professor sebagai bagian dari strategi memperbesar keterlibatan PTKI dalam jejaring akademik dunia.

Pesan tersebut memperoleh konteks yang lebih dekat dengan FORDETAK ketika Prof. Dr. Phil. H. Syahiron Syamsuddin, MA menjadi pembicara dalam seminar internasional “Transforming Islamic Education for Sustainable Development: Bridging Tradition and Innovation” di UIN Antasari Banjarmasin pada 13 Agustus 2026. Ia mengingatkan bahwa internasionalisasi PTKIN tidak seharusnya membuat perguruan tinggi Islam sekadar meniru model universitas umum.

“PTKIN tidak boleh hanya meniru perguruan tinggi umum. Kita perlu mengembangkan keunggulan akademik yang memadukan standar ilmiah kontemporer dengan kekayaan tradisi intelektual Islam.”

Bagi Prof. Dr. Phil. H. Syahiron Syamsuddin, MA, salah satu kekuatan yang dapat dikembangkan PTKIN adalah integrasi ilmu melalui pendekatan metodologis, substantif, dan etis. Integrasi tersebut bukan sekadar meletakkan ilmu agama berdampingan dengan sains modern, tetapi membangun hubungan akademik yang dapat menghasilkan pengetahuan baru dan menawarkan solusi bagi persoalan masyarakat.

Perspektif ini penting ketika pendidikan tinggi menghadapi perkembangan AI. Teknologi dapat membantu personalisasi pembelajaran, penyusunan bahan ajar, pengolahan data, hingga peningkatan efisiensi akademik. Namun, tanpa dimensi etik dan kemampuan berpikir kritis, pemanfaatannya dapat memunculkan persoalan integritas akademik dan mereduksi peran pendidikan menjadi sekadar proses teknis.

Karena itu, inovasi yang dibicarakan dalam FORDETAK memiliki tantangan ganda: menguasai perubahan teknologi sekaligus menjaga orientasi kemanusiaan dan nilai pendidikan Islam.

Kelas Dunia Harus Terlihat dari Mutu dan Dampak

Ambisi menuju PTKIN berkelas dunia tidak cukup diukur dari jumlah nota kesepahaman, kunjungan luar negeri, atau posisi dalam pemeringkatan universitas. Internasionalisasi memperoleh makna ketika jejaring global memperbaiki kualitas kurikulum, meningkatkan kompetensi dosen dan mahasiswa, memperkuat penelitian, serta menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Dalam konteks penguatan mutu tersebut, Prof. Abdul Rohman menempatkan evaluasi internasional sebagai kesempatan bagi perguruan tinggi untuk terus belajar. Ketika tiga program studi FTIK UIN Walisongo mengikuti asesmen internasional ACQUIN pada Juli 2026, ia menekankan bahwa asesmen internasional merupakan ruang bagi institusi untuk melihat posisi, mengenali kekurangan, dan mengembangkan keunggulan akademiknya.

Prinsip itu selaras dengan pesan FORDETAK 2026. Predikat “kelas dunia” seharusnya menjadi konsekuensi dari budaya mutu yang bekerja setiap hari: kurikulum yang relevan, guru yang semakin kompeten, riset yang menjawab persoalan, pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab, serta jejaring internasional yang menghasilkan kerja akademik nyata.

FORDETAK juga memperlihatkan bahwa orientasi global tidak harus menghapus identitas lokal. Dalam rangkaian kegiatan di Kalimantan Selatan, peserta mendapat kesempatan mengenal kekayaan budaya dan potensi daerah, termasuk Pasar Terapung dan Martapura. Pengalaman lokal menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi dapat membangun reputasi global justru dengan membawa kekhasan pengetahuan, kebudayaan, dan pengalaman Indonesia ke ruang akademik internasional.

Konsep “from local to global” dengan demikian tidak semata menjadi slogan. Kearifan lokal dapat menjadi sumber riset, materi pembelajaran, pengembangan pendidikan karakter, dan bahkan bagian dari diplomasi pengetahuan Indonesia.

Tantangan terbesar justru dimulai setelah forum berakhir. Rumusan mengenai PPG, RPL, fast track, double degree, Implementation Agreement, penguatan jejaring, dan respons terhadap AI perlu diterjemahkan ke dalam target yang dapat diukur di masing-masing fakultas. FORDETAK akan memiliki dampak lebih besar apabila kerja sama yang dibangun mampu melahirkan kurikulum bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, riset kolaboratif, publikasi internasional, serta model pendidikan guru yang dapat direplikasi lintas PTKIN.

Dari Banjarmasin, FORDETAK 2026 membawa satu pesan penting: masa depan pendidikan Islam tidak ditentukan oleh kemampuan kampus bekerja sendirian, melainkan oleh kemampuan membangun ekosistem pengetahuan yang saling menguatkan. Kolaborasi sebagaimana ditekankan Prof. Dr. Phil. H. Syahiron Syamsuddin, MA perlu bergerak dari pilihan menjadi keharusan; profesionalisme guru sebagaimana diingatkan Abdul Rohman harus terlihat dalam praktik pembelajaran; sementara inovasi harus berujung pada manfaat nyata bagi peserta didik dan masyarakat.

Pada akhirnya, ukuran PTKIN berkelas dunia bukan sekadar seberapa jauh namanya dikenal di luar negeri, tetapi seberapa kuat ilmu yang dihasilkannya, seberapa bermutu guru yang dipersiapkannya, dan seberapa nyata kehadirannya membantu menyelesaikan persoalan masyarakat. Dari titik itulah kolaborasi dan inovasi pendidikan Islam menemukan makna yang sesungguhnya.

Exit mobile version