Semarang— Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan kembali menorehkan prestasi membanggakan melalui keberhasilan dua mahasiswa terbaiknya dalam ajang lomba tingkat nasional. Prestasi tersebut diraih oleh Naillah Amailia dan Muhammad Hammas Abdussalam, dua mahasiswa yang berhasil menunjukkan kemampuan terbaik pada bidang yang berbeda.
Naillah Amailia berhasil meraih Juara 2 Lomba Khitobah pada event Mahrajan Musbaqoh Al-Arabiyah. Sementara itu, Muhammad Hammas Abdussalam meraih Juara 2 Lomba UDINUS National Karate Championship – Piala Rektor II.
Capaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa fakultas tidak hanya berkembang dalam bidang akademik, tetapi juga mampu berprestasi dalam bidang keagamaan, bahasa, seni berbicara, olahraga, kedisiplinan, dan ketangguhan mental. Keduanya memperlihatkan bahwa prestasi mahasiswa dapat tumbuh dari berbagai ruang, baik dari mimbar khitobah maupun arena pertandingan karate.
Prestasi ini juga menjadi kabar baik bagi fakultas karena menunjukkan bahwa proses pembinaan mahasiswa tidak hanya diarahkan pada penguasaan ilmu, tetapi juga pada pembentukan karakter, keberanian, dan daya saing di tingkat nasional.
Cerita Perjuangan di Balik Prestasi
Di balik keberhasilan tersebut, terdapat proses panjang yang tidak selalu terlihat oleh publik. Naillah Amailia harus melalui latihan, penguatan mental, penguasaan materi, pengaturan intonasi, serta keberanian tampil di hadapan dewan juri dan peserta lain dari berbagai daerah.
Dalam wawancara, Naillah menyampaikan bahwa lomba khitobah bukan hanya tentang kemampuan berbicara, tetapi juga tentang menyampaikan pesan dengan ketulusan.
“Khitobah tidak cukup dengan berbicara saja di depan orang banyak. Saya belajar bahwa setiap kata harus membawa arti, ada pesan moral, dan keberanian. Saat tampil, saya berusaha tidak hanya menyampaikan pidato, tetapi juga menghadirkan pesan yang dapat menyentuh pendengar,” ujar Naillah.
Sementara itu, Muhammad Hammas Abdussalam membawa cerita perjuangan dari arena karate. Pada ajang UDINUS National Karate Championship Piala Rektor II, Hammas menghadapi persaingan yang ketat. Ia dituntut untuk memiliki kesiapan fisik, strategi bertanding, fokus, disiplin, dan kemampuan mengendalikan emosi selama pertandingan berlangsung.
Saat diwawancarai, Hammas menyampaikan bahwa karate telah memberinya banyak pelajaran tentang kedisiplinan dan pengendalian diri.
“Di arena karate, saya belajar mengendalikan diri. Kemenangan itu penting, tetapi proses membentuk mental jauh lebih penting. Saya bersyukur bisa membawa nama baik fakultas dan kampus di tingkat nasional,” ungkap Hammas.
Kisah keduanya menunjukkan bahwa prestasi tidak datang secara tiba-tiba. Prestasi lahir dari latihan yang konsisten, keberanian untuk mencoba, dukungan lingkungan, serta kemauan untuk terus memperbaiki diri. Naillah dan Hammas membuktikan bahwa setiap mahasiswa memiliki jalan prestasinya masing-masing.
Membangun Generasi Unggul Berkarakter
Keberhasilan Naillah Amailia dan Muhammad Hammas Abdussalam menjadi bagian penting dari narasi besar fakultas dalam membangun citra sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kepemimpinan, kreativitas, sportivitas, dan daya saing nasional.
Pihak fakultas menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada kedua mahasiswa atas capaian yang telah diraih. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan potensi diri, berani mengikuti kompetisi, dan membawa nama baik fakultas di berbagai bidang.
Secara edukatif, kemenangan ini memberikan pesan bahwa keberhasilan mahasiswa tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari keberanian tampil, ketekunan berlatih, kemampuan beradaptasi, dan semangat berkompetisi secara sehat. Naillah menunjukkan bahwa kemampuan bahasa, dakwah, dan komunikasi dapat menjadi ruang prestasi yang membanggakan. Hammas menunjukkan bahwa olahraga dan seni bela diri dapat membentuk mental tangguh, disiplin, dan sportif.
