Phnom Penh, 28 Juli 2026 — Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Walisongo Semarang memperluas jejaring akademiknya di Asia Tenggara melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) dengan An-Ni’mah Institute di Phnom Penh, Kamboja, Selasa, 28 Juli 2026.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan pendidikan Islam dan pembelajaran bahasa Arab, terutama melalui pertukaran mahasiswa dan dosen, penelitian bersama, pengembangan kurikulum bahasa Arab digital, serta pelaksanaan kegiatan akademik lintas negara. Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan bagi masyarakat Muslim Cham di Kamboja.
Membuka Akses Pendidikan bagi Masyarakat Muslim Cham
Delegasi UIN Walisongo Semarang dalam kunjungan tersebut terdiri atas Dr. Suja’i, M.Ag., Dr. Mahfud Siddiq, M.Ag., dan Dr. Nasikhin, M.Pd. Mereka bertemu dengan jajaran An-Ni’mah Institute untuk membahas kebutuhan pendidikan, potensi pengembangan bahasa Arab, serta peluang kerja sama yang dapat memberikan manfaat langsung bagi kedua institusi.
Kerja sama ini berangkat dari meningkatnya kebutuhan masyarakat Muslim Cham terhadap pendidikan agama dan pendidikan umum yang relevan dengan perkembangan sosial, teknologi, dan kebijakan pendidikan di Kamboja. Namun, pengembangan potensi tersebut masih memerlukan dukungan berupa peningkatan kapasitas tenaga pendidik, pembaruan kurikulum, perluasan jejaring akademik, dan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.
Dr. Suja’i menilai masyarakat Muslim Cham memiliki modal sosial dan keagamaan yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan dalam pembangunan pendidikan di Kamboja.
“Masyarakat Muslim Cham punya potensi untuk mengembangkan ilmu agama dan umum untuk mengambil pangsa pasar pendidikan di Kamboja. Untuk itu, Prodi PBA UIN Walisongo membuka diri untuk menjalin kerja sama dalam mendukung potensi ini, baik untuk KKL, PPL, dan kerja sama lainnya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kerja sama tidak hanya ditujukan untuk memperkuat hubungan kelembagaan, tetapi juga untuk menciptakan ruang pembelajaran lapangan bagi mahasiswa dan dosen. Melalui kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), mahasiswa berpeluang memahami secara langsung dinamika pendidikan Islam dalam konteks sosial dan budaya Kamboja.
Dari Pertukaran Akademik hingga Kurikulum Bahasa Arab Digital
MoA antara kedua institusi membuka sejumlah agenda kolaborasi, antara lain pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, penelitian bersama, pengembangan kurikulum, serta penyusunan model pembelajaran bahasa Arab berbasis digital. Program-program tersebut diharapkan dapat mempertemukan pengalaman akademik UIN Walisongo dengan kebutuhan pendidikan An-Ni’mah Institute dan masyarakat Muslim Cham.
Pengembangan kurikulum bahasa Arab digital menjadi salah satu gagasan penting dalam kerja sama ini. Pemanfaatan teknologi memungkinkan materi pembelajaran bahasa Arab disampaikan secara lebih fleksibel, interaktif, dan mudah diakses, termasuk oleh peserta didik yang memiliki keterbatasan jarak maupun sumber belajar.
Dr. Mahfud Siddiq mengatakan keterbukaan yang semakin berkembang di Kamboja perlu dimanfaatkan untuk memperkuat partisipasi masyarakat Muslim Cham dalam pendidikan dan pembangunan.
“Umat Muslim Cham akhir-akhir ini mulai menerima keterbukaan akses untuk mengikuti perkembangan pemerintah dan dunia pendidikan Islam. Untuk itu, kita harus mendukung dan mengambil peluang ini,” tegasnya.
Keterbukaan tersebut menciptakan peluang bagi lembaga pendidikan Islam untuk memperbarui metode pembelajaran, meningkatkan kompetensi tenaga pendidik, dan membangun kemitraan internasional. Dalam konteks ini, kerja sama UIN Walisongo dan An-Ni’mah Institute dapat menjadi sarana pertukaran pengetahuan sekaligus pengembangan kapasitas kelembagaan.
Wakil Mudzir An-Ni’mah Institute, Ismail, menyambut baik penandatanganan MoA tersebut. Ia berharap kesepakatan yang telah dibangun dapat segera diterjemahkan menjadi program konkret, terutama dalam pertukaran mahasiswa dan dosen, pelaksanaan penelitian bersama, serta pengembangan kurikulum bahasa Arab digital.
Keberhasilan kerja sama ini selanjutnya akan ditentukan oleh penyusunan program, pembagian tanggung jawab, jadwal pelaksanaan, serta mekanisme evaluasi yang jelas. Jumlah peserta, waktu pelaksanaan program pertama, dan target capaian setiap kegiatan masih akan dirumuskan lebih lanjut oleh kedua institusi.
Menjadikan Kolaborasi sebagai Kerja Akademik yang Berkelanjutan
Kerja sama lintas negara dalam bidang pendidikan tidak cukup berhenti pada penandatanganan dokumen. Nilai utama MoA terletak pada kemampuannya menghasilkan kegiatan yang terukur, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat penerima manfaat.
Bagi UIN Walisongo, kolaborasi ini dapat memperluas pengalaman internasional mahasiswa dan dosen, memperkaya kajian pendidikan bahasa Arab, serta membuka ruang penelitian tentang pendidikan Islam di kawasan Asia Tenggara. Bagi An-Ni’mah Institute, kemitraan tersebut berpotensi memperkuat kualitas kurikulum, kompetensi tenaga pengajar, pemanfaatan teknologi pendidikan, dan akses terhadap jejaring akademik internasional.
Pengalaman ini juga menunjukkan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi dapat dibangun melalui kerja sama yang berangkat dari persoalan nyata. Penguatan bahasa Arab, digitalisasi pembelajaran, pertukaran pengetahuan, dan peningkatan kapasitas masyarakat Muslim Cham merupakan bidang yang dapat dikembangkan secara bertahap melalui program yang memiliki indikator hasil yang jelas.
MoA UIN Walisongo dan An-Ni’mah Institute pada akhirnya bukan sekadar perluasan jejaring kelembagaan. Kesepakatan tersebut menjadi pintu masuk untuk mempertemukan sumber daya akademik Indonesia dengan kebutuhan pendidikan masyarakat Muslim Cham. Dampaknya akan terlihat ketika komitmen yang ditandatangani di Phnom Penh berkembang menjadi ruang belajar, penelitian, pertukaran gagasan, dan perubahan nyata bagi pendidikan Islam di Asia Tenggara.
