SEMARANG — Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (DEMA FTIK) UIN Walisongo Semarang memperluas ruang kontribusi mahasiswa di bidang pendidikan melalui peluncuran chapter book yang ditulis secara kolaboratif oleh anggota DEMA FTIK. Karya tersebut menjadi bagian dari program literasi di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan DEMA FTIK yang dikoordinasikan oleh Muqtafa Deka Yunesa.
Peluncuran buku yang berlangsung pada Rabu 19 Agustus 2026 di Gedung Auditorium II itu diterima secara resmi oleh pihak FTIK UIN Walisongo Semarang melalui Wakil Dekan I Dr. Ahmad Muthohar, M.Ag. dan Wakil Dekan III Dr. Karnadi, M.Pd. Momentum tersebut tidak sekadar menandai terbitnya sebuah karya, tetapi juga menunjukkan upaya mahasiswa mengubah pengalaman organisasi, pembacaan terhadap realitas pendidikan, dan gagasan kritis menjadi pengetahuan tertulis yang dapat dibaca lebih luas.
Berdasarkan materi peluncuran, karya yang diperkenalkan antara lain mengangkat tema pendidikan melalui judul Nafas Pendidikan Indonesia dan Jejak Ilusi Pendidikan. Keduanya memperlihatkan bagaimana isu pendidikan ditempatkan bukan hanya sebagai bahan diskusi internal organisasi mahasiswa, melainkan sebagai persoalan publik yang layak direfleksikan dan didokumentasikan melalui tulisan.
Ketika Aktivisme Mahasiswa Bertransformasi Menjadi Karya Literasi
Bagi organisasi mahasiswa di lingkungan fakultas kependidikan, kemampuan menyampaikan gagasan melalui tulisan memiliki posisi penting. Mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan kegiatan akademik di ruang kelas, tetapi juga dengan berbagai persoalan pendidikan yang berkembang di masyarakat. Chapter book ini lahir dari semangat tersebut: membawa pengalaman, pemikiran, dan keresahan mahasiswa ke dalam ruang literasi yang lebih terstruktur.
Kegiatan penerbitan berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan DEMA FTIK UIN Walisongo Semarang, dengan Muqtafa Deka Yunesa sebagai pihak yang mengoordinasikan program tersebut. Seluruh anggota terlibat dalam proses penulisan, penyuntingan, hingga penerbitan karya.
Berbeda dari kegiatan organisasi yang dampaknya sering kali berhenti setelah sebuah agenda selesai, penerbitan buku meninggalkan rekam gagasan yang dapat terus dibaca, dikritisi, dan dikembangkan. Karena itu, proses tersebut menjadi salah satu bentuk penguatan tradisi akademik mahasiswa sekaligus latihan untuk menyampaikan pandangan secara argumentatif dan bertanggung jawab.
Wakil Dekan I FTIK UIN Walisongo Semarang, Dr. Ahmad Muthohar, M.Ag., menilai lahirnya karya mahasiswa memiliki arti penting dalam pembentukan atmosfer akademik di lingkungan fakultas.
“Karya tulis mahasiswa merupakan salah satu bentuk nyata dari tumbuhnya budaya akademik. Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pembaca dan penerima pengetahuan, tetapi perlu berani mengolah pengalaman, gagasan, dan persoalan pendidikan menjadi karya yang dapat dipertanggungjawabkan secara intelektual. Buku ini menjadi langkah yang baik untuk membangun tradisi tersebut di FTIK.” Dr. Ahmad Muthohar, M.Ag.
Dari Diskusi, Tulisan, hingga Buku yang Bisa Dibaca Publik
Proses penyusunan chapter book memberikan pengalaman berbeda bagi anggota DEMA FTIK. Gagasan yang sebelumnya mungkin hanya muncul dalam forum diskusi, percakapan organisasi, maupun refleksi personal harus dikembangkan menjadi tulisan yang memiliki alur, argumentasi, dan pesan yang jelas.
Model chapter book memungkinkan sejumlah penulis menghadirkan perspektif masing-masing dalam satu tema besar. Dengan cara ini, buku tidak hanya menjadi kumpulan tulisan, tetapi juga ruang perjumpaan gagasan mahasiswa terhadap pendidikan dari beragam sudut pandang.
Muqtafa Deka Yunesa melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan DEMA FTIK mendorong program tersebut sebagai bagian dari penguatan kultur literasi mahasiswa. Proses penerbitan menjadi pengalaman belajar yang mencakup pengembangan ide, penulisan naskah, penyuntingan, hingga bagaimana sebuah gagasan dikomunikasikan kepada pembaca.
Nilai kegiatan itu juga terletak pada keberanian mahasiswa untuk meninggalkan jejak intelektual. Dalam ekosistem pendidikan tinggi, publikasi mahasiswa dapat menjadi jembatan antara aktivitas kemahasiswaan dan tradisi akademik. Organisasi tidak semata menjadi tempat mengelola kegiatan, tetapi juga dapat tumbuh menjadi ruang produksi pengetahuan.
Wakil Dekan III FTIK UIN Walisongo Semarang, Dr. Karnadi, M.Pd., melihat kegiatan tersebut sebagai contoh bahwa pengembangan mahasiswa dapat berlangsung melalui aktivitas yang produktif dan memiliki keberlanjutan.
“Organisasi mahasiswa idealnya menjadi ruang untuk mengembangkan kepemimpinan, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, sekaligus tradisi intelektual. Ketika mahasiswa mampu menghasilkan buku, aktivitas organisasi tidak berhenti pada pelaksanaan program, tetapi meninggalkan karya yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya.” Dr. Karnadi, M.Pd
Penerimaan buku oleh kedua pimpinan fakultas sekaligus menandai bertemunya inisiatif mahasiswa dengan dukungan lingkungan akademik. Buku tersebut menjadi bukti fisik bahwa aktivitas kemahasiswaan dapat diarahkan menuju produk literasi yang memiliki nilai dokumentasi dan edukasi.
Menjadikan Menulis sebagai Jejak Gerakan Mahasiswa
Peluncuran chapter book DEMA FTIK membawa satu pelajaran penting: gerakan mahasiswa dapat dibangun tidak hanya melalui forum, kegiatan sosial, maupun advokasi, tetapi juga melalui gagasan yang dituliskan. Tulisan memungkinkan suatu pemikiran hidup lebih lama dibandingkan sebuah kegiatan yang selesai dalam hitungan jam atau hari.
Bagi mahasiswa kependidikan, pengalaman menulis juga relevan dengan kompetensi yang kelak dibutuhkan sebagai akademisi, pendidik, peneliti, maupun penggerak masyarakat. Kemampuan membaca persoalan, menyusun argumentasi, menggunakan sumber secara bertanggung jawab, dan menyampaikan gagasan kepada publik merupakan bagian penting dari proses tersebut.
Ke depan, pengalaman penerbitan ini dapat dikembangkan menjadi tradisi literasi yang lebih sistematis, misalnya melalui kelas menulis, pendampingan naskah, diskusi buku, pelibatan dosen sebagai mitra akademik, serta penerbitan berkala yang mengangkat persoalan pendidikan kontemporer. Dengan demikian, karya mahasiswa tidak berhenti pada momentum peluncuran, tetapi berkembang menjadi ekosistem produksi pengetahuan di lingkungan FTIK.
Buku pada akhirnya bukan sekadar benda yang berpindah tangan dalam sebuah seremoni. Ia menyimpan gagasan, kegelisahan, pengalaman, dan cara sebuah generasi membaca zamannya. Ketika mahasiswa mulai menuliskan apa yang mereka pikirkan tentang pendidikan, mereka tidak hanya sedang menerbitkan halaman-halaman baru, tetapi juga sedang meninggalkan jejak intelektual yang dapat dibaca oleh generasi setelahnya.
