FTIK

Borong Lima Juara di Gebyar Seni Qur’aniyy 2026, Mahasiswa PAI UIN Walisongo Tunjukkan Keunggulan Tilawah dan Seni Islami

SEMARANG — Lima mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang, berhasil meraih prestasi dalam ajang Gebyar Seni Qur’aniyy XVIII 2026 yang diselenggarakan oleh Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh (JQH) Al-Furqan UIN Salatiga. Dua gelar juara pertama, dua juara kedua, dan satu juara ketiga berhasil diraih melalui cabang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dan Cover Sholawat. Capaian ini memperlihatkan kemampuan mahasiswa dalam memadukan penguasaan keterampilan keagamaan, kreativitas seni, dan keberanian berkompetisi di lingkungan perguruan tinggi.

Kompetisi yang dilaksanakan pada 12 Oktober 2026 tersebut mengusung tema “Akselerasi Langkah Generasi Qur’aniyy yang Kreatif, Transformatif, dan Adaptif Menuju Episentrum Peradaban Modern.” Keberhasilan mahasiswa PAI UIN Walisongo menjadi gambaran bahwa pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan agama, tetapi juga pengembangan keterampilan, ekspresi budaya, dan kemampuan menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan generasi muda.

Lima Prestasi yang Memperkuat Tradisi Keilmuan dan Seni Qur’ani

Prestasi mahasiswa PAI UIN Walisongo diraih melalui dua cabang perlombaan dengan karakteristik kompetensi yang berbeda. Pada cabang MTQ, Rafa Aditya berhasil meraih Juara I kategori putra, sedangkan Istiqomah memperoleh Juara II kategori putri. Kedua capaian tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam bidang tilawah yang menuntut penguasaan tajwid, ketepatan makharijul huruf, pengaturan irama, dan kualitas bacaan Al-Qur’an.

Sementara itu, pada cabang Cover Sholawat, mahasiswa PAI UIN Walisongo berhasil menempati tiga posisi juara. Achmad Ikhf ani meraih Juara I, M. Faiz Abdurrohman memperoleh Juara II, dan Hesti Nur Amiati berhasil meraih Juara III. Keberhasilan tersebut memperlihatkan potensi mahasiswa dalam mengembangkan seni vokal Islami sebagai sarana ekspresi keagamaan yang dekat dengan budaya masyarakat Indonesia.

Gebyar Seni Qur’aniyy XVIII merupakan kompetisi yang mewadahi berbagai keterampilan keislaman melalui lima cabang perlombaan, yakni MTQ, Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ), Musabaqah Khattil Qur’an (MKQ), dan Cover Sholawat. Keragaman cabang tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan membaca, menghafal, memahami, menulis, serta mengekspresikan pesan-pesan keagamaan melalui seni.

Keberhasilan mahasiswa PAI UIN Walisongo memiliki makna penting dalam konteks pendidikan calon guru agama Islam. Kemampuan membaca Al-Qur’an secara baik dan benar merupakan salah satu kompetensi yang relevan bagi calon pendidik. Di sisi lain, keterampilan seni Islami dapat menjadi modal untuk mengembangkan pembelajaran agama yang kreatif, komunikatif, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Dekan FTIK: Prestasi Harus Menjadi Modal Inovasi Pendidikan Islam

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag., memberikan apresiasi terhadap capaian mahasiswa PAI dalam kompetisi tersebut. Menurutnya, keberhasilan mahasiswa dalam bidang tilawah dan seni Islami perlu dipandang sebagai bagian dari penguatan kompetensi calon pendidik yang tidak hanya memiliki pengetahuan keagamaan, tetapi juga keterampilan untuk mengomunikasikan nilai-nilai Islam secara kreatif.

“Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa Pendidikan Agama Islam memiliki potensi yang perlu terus dikembangkan, baik dalam penguasaan ilmu keislaman maupun kreativitas seni. Bagi calon pendidik, kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan menyampaikan pesan keagamaan melalui pendekatan yang menarik merupakan bekal penting untuk menghadirkan pembelajaran Islam yang bermakna bagi generasi muda.”,Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag.

Lebih lanjut, Dekan FTIK menekankan pentingnya menghubungkan prestasi mahasiswa dengan pengembangan kualitas pendidikan. Kemampuan yang diperoleh melalui kegiatan kompetitif perlu ditransformasikan menjadi pengalaman pedagogis, terutama dalam merancang pembelajaran yang mengintegrasikan penguasaan materi, kreativitas, dan pembentukan karakter peserta didik.

“Kami ingin prestasi mahasiswa tidak berhenti pada perolehan penghargaan, tetapi berkembang menjadi kontribusi nyata bagi pendidikan. Mahasiswa PAI perlu mampu mengubah kompetensi dan pengalaman yang dimilikinya menjadi metode pembelajaran yang inovatif, sehingga nilai-nilai Al-Qur’an dapat dipahami, dihayati, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.”,Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag.

Perspektif tersebut menempatkan kompetisi sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran di perguruan tinggi. Pengalaman berkompetisi memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan, membangun kedisiplinan, mengelola tekanan, serta mengembangkan kepercayaan diri dalam menampilkan kemampuan di hadapan publik.

Dalam konteks pengembangan pendidikan Islam, pengalaman tersebut relevan dengan kebutuhan calon guru yang dituntut mampu menghadirkan pembelajaran aktif dan kontekstual. Penguasaan tilawah dapat mendukung pembelajaran Al-Qur’an yang berkualitas, sementara kreativitas seni sholawat dapat dimanfaatkan sebagai pendekatan edukatif untuk memperkenalkan nilai-nilai keteladanan, spiritualitas, dan kecintaan terhadap tradisi Islam.

Prestasi Kompetisi Menuju Penguatan Kompetensi Calon Pendidik

Capaian lima mahasiswa PAI UIN Walisongo membuka peluang untuk memperkuat pembinaan bakat dan pengembangan kompetensi mahasiswa secara berkelanjutan. Prestasi dalam MTQ dan Cover Sholawat dapat menjadi titik awal bagi pengembangan kegiatan pendampingan, pelatihan, serta berbagi pengalaman antarmahasiswa agar manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh para pemenang.

Pengalaman mahasiswa berprestasi juga berpotensi diintegrasikan ke dalam berbagai kegiatan akademik dan pengabdian kepada masyarakat. Keterampilan tilawah, misalnya, dapat dikembangkan melalui pembinaan baca Al-Qur’an bagi peserta didik atau masyarakat. Sementara itu, kemampuan seni sholawat dapat menjadi salah satu pendekatan kreatif dalam kegiatan literasi keagamaan, pendidikan karakter, dan pengembangan budaya Islam di lingkungan pendidikan.

Hal tersebut penting mengingat calon guru Pendidikan Agama Islam menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perkembangan teknologi digital, perubahan pola komunikasi, serta keberagaman karakter peserta didik menuntut calon pendidik untuk tidak hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga memahami cara menyampaikannya secara relevan, menarik, dan bertanggung jawab.

Prestasi mahasiswa dalam bidang seni dan keagamaan menjadi contoh bahwa penguatan kompetensi akademik dapat berjalan beriringan dengan pengembangan minat dan bakat. Melalui pengalaman di luar ruang kelas, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan personal dan sosial yang berpotensi mendukung profesionalitas mereka ketika memasuki dunia pendidikan.

Bagi FTIK UIN Walisongo, capaian tersebut juga dapat menjadi bahan refleksi mengenai pentingnya lingkungan akademik yang memberi ruang bagi keberagaman potensi mahasiswa. Pendidikan calon guru membutuhkan keseimbangan antara penguatan pengetahuan, keterampilan pedagogis, karakter, dan kreativitas agar lulusan mampu beradaptasi dengan dinamika dunia pendidikan.

Lima penghargaan yang diraih mahasiswa PAI UIN Walisongo dalam Gebyar Seni Qur’aniyy XVIII 2026 pada akhirnya menyampaikan pesan yang lebih luas daripada kemenangan dalam kompetisi. Di balik kemampuan melantunkan ayat suci Al-Qur’an dan mengekspresikan sholawat melalui seni, terdapat potensi generasi pendidik Islam yang mampu menjembatani kekuatan tradisi keagamaan dengan kebutuhan pendidikan modern. Ketika pengalaman dan keterampilan tersebut dikembangkan menjadi praktik pembelajaran yang inovatif, prestasi mahasiswa tidak hanya tercatat sebagai penghargaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun pendidikan Islam yang bermakna, kreatif, dan berkelanjutan.

 

Exit mobile version