FTIK

Bedah Fenomena Academic Burnout, Ummi Kultsum Sakinah, Mahasiswi PAI Asal Pangkalan Bun Raih Penghargaan Skripsi Terbaik UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Semarang — Gelaran Wisuda Program Doktor (S.3) ke-43, Program Magister (S.2) ke-68, dan Sarjana (S.1) ke-101 UIN Walisongo Semarang di Auditorium Kampus 3 pada Sabtu (22/8/2026) menyisakan kisah inspiratif yang menyejukkan hati. Di antara ribuan lulusan, Ummi Kultsum Sakinah, mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), tampil menerima penghargaan sebagai peraih Skripsi Terbaik.

Gadis asal Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, yang akrab disapa Sakinah ini berhasil membuktikan bahwa keberhasilan akademik tidak selalu harus dicapai dengan tergesa-gesa atau memaksakan diri di luar kapasitas.

Sempat Dikira Modus Penipuan

Momen pengumuman penghargaan justru disambut rasa tidak percaya oleh Sakinah. Anak ketiga dari lima bersaudara pasangan pensiunan PNS dan ibu rumah tangga ini mengaku sama sekali tidak pernah menargetkan predikat skripsi terbaik sejak awal kuliah.

“Saat pertama kali dimasukkan ke dalam grup penerima award, saya sempat mengira itu modus penipuan. Saya bahkan belum berani mengabari keluarga karena takut kabar itu cuma hoax. Saya hanya berusaha menyelesaikan penelitian dan skripsi sebaik mungkin,” kenang Sakinah.

Bagi Sakinah, gelar ini bukan penanda bahwa karya mahasiswi lain lebih rendah. Ia meyakini setiap skripsi adalah karya terbaik dari perjuangan masing-masing mahasiswa yang telah mencurahkan segenap usahanya.

Mengupas Academic Burnout dan Penerapan Unity of Sciences

Skripsi Sakinah yang berjudul “Relationship between Religious Coping and Academic Burnout among Islamic Education Students in the International Class Program at Walisongo State Islamic University Semarang” berawal dari kepeduliannya terhadap tekanan akademik yang kerap dialami mahasiswa.

Dalam studinya, Sakinah menerapkan visi Unity of Sciences UIN Walisongo Semarang dengan menghubungkan aspek keagamaan (religious coping) dan psikologis mahasiswa. Temuannya pun sangat menarik; secara kuantitatif 72% mahasiswa berada pada tingkat burnout rendah, tetapi data kualitatif mengungkap cerita mendalam tentang perjuangan mahasiswa menghadapi kelelahan, rasa enggan, dan motivasi yang turun-naik.

“Penelitian ini mengajarkan saya untuk melihat persoalan secara utuh dan tidak hanya menilai keadaan dari satu sudut pandang saja,” jelasnya.

Berdamai dengan Proses dan Menjaga Kesehatan Mental

Perjalanan kuliah Sakinah tidak selalu berjalan linier. Lulus pada semester 10, ia mengakui pernah mengalami fase melelahkan dan harus melewati banyak revisi. Namun, ketimbang memaksakan diri untuk terus produktif setiap saat, Sakinah memilih untuk menjaga psychological well-being dan berdamai dengan ritme belajarnya sendiri.

Dalam melangkah, Sakinah menjadikan Allah SWT sebagai sumber kekuatan utama dan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan hidup, sembari terus mendorong dirinya untuk berkembang tanpa tekanan.

“Pesan saya untuk teman-teman, jangan terlalu membandingkan proses diri sendiri dengan orang lain. Setiap orang memiliki minat, kemampuan, dan ritme perkembangan yang berbeda. Tidak harus selalu mengejar gelar atau capaian tertentu, yang terpenting adalah berusaha menjadi versi diri yang terus berkembang,” tutup Sakinah penuh makna.

 

Exit mobile version