FTIK

Bawa Perspektif Ekoteologi ke Thailand, Perkuat Pendidikan untuk Menjawab Krisis Lingkungan

YALA, THAILAND — Krisis lingkungan yang semakin kompleks membutuhkan lebih dari sekadar solusi teknis. Perubahan iklim, tekanan terhadap sumber daya alam, perubahan tata guna lahan, hingga persoalan pengelolaan air juga menuntut perubahan cara manusia memahami hubungannya dengan alam. Perspektif inilah yang dibawa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang dalam Visiting Lecture di Faculty of Education, Yala Rajabhat University (YRU), Thailand, Selasa, 4 Agustus 2026.

Melalui tema ekoteologi, akademisi FTIK UIN Walisongo Dr. Agus Sutiyono, M.Ag., M.Pd. mengajak mahasiswa Program Studi Bahasa Melayu untuk Bisnis YRU melihat persoalan lingkungan sebagai persoalan yang juga memiliki dimensi moral dan spiritual. Forum tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif keislaman dengan realitas ekologis Thailand Selatan serta kebutuhan dunia pendidikan dan bisnis terhadap prinsip keberlanjutan.

Dari Krisis Global ke Persoalan Ekologis Thailand Selatan

Pembahasan tidak berhenti pada perubahan iklim sebagai isu global. Tim riset UIN Walisongo yang terdiri atas Dr. Ridwan, M.Ag., Dr. Agus Sutiyono, M.Ag., M.Pd., serta mahasiswa Evita Nur Apriliana juga menggali perspektif akademisi setempat dan kondisi lingkungan di Yala dan wilayah sekitarnya.

Diskusi mengangkat sejumlah tantangan ekologis lokal, antara lain alih fungsi lahan, tata kelola air, serta dampak aktivitas industri dan pertanian. Pendekatan tersebut menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai penerima materi, tetapi juga sebagai bagian dari proses membaca hubungan antara persoalan lingkungan global dan kondisi nyata masyarakat Thailand Selatan.

Dr. Agus Sutiyono menjelaskan bahwa krisis ekologis tidak cukup dipandang semata-mata sebagai persoalan teknis dan ekonomi. Dalam perspektif ekoteologi, relasi manusia dengan alam juga berkaitan dengan tanggung jawab moral dan spiritual.

Lima dimensi ekoteologi Islam—Tauhid, Khalifah, Amanah, Mizan, dan Adil—kemudian digunakan sebagai kerangka untuk memahami tanggung jawab tersebut. Pendekatan ini menawarkan cara pandang bahwa menjaga keseimbangan lingkungan merupakan bagian dari etika kehidupan, termasuk ketika manusia mengambil keputusan ekonomi dan bisnis.

“Krisis lingkungan global membutuhkan respons kesadaran yang holistik dan mengakar pada realitas lokal. Berdiskusi langsung dengan masyarakat akademik YRU memberikan gambaran nyata mengenai tantangan ekologis di Thailand Selatan. Integrasi lima dimensi ekoteologi Tauhid, Khalifah, Amanah, Mizan, dan Adil memberikan landasan etis yang kokoh. Ketika nilai ini diterapkan dalam dunia bisnis, kita tidak hanya mencetak profesional yang cerdas secara ekonomi, tetapi juga memiliki kepekaan ekologis (eco-ethics) yang kuat,” kata Dr. Agus Sutiyono.

Menghubungkan Pendidikan, Bisnis, dan Tanggung Jawab Ekologis

Pemilihan mahasiswa Bahasa Melayu untuk Bisnis sebagai peserta memberikan dimensi tersendiri dalam kegiatan tersebut. Tantangan keberlanjutan kini semakin bersinggungan dengan keputusan bisnis, mulai dari pemanfaatan sumber daya, pola produksi, hingga tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Karena itu, ekoteologi diperkenalkan bukan hanya sebagai diskursus keagamaan, tetapi sebagai landasan etik yang dapat memperkaya cara calon profesional memahami konsekuensi lingkungan dari aktivitas ekonomi.

Bahasa Melayu juga menjadi jembatan komunikasi akademik yang relevan bagi kawasan Asia Tenggara. Melalui kedekatan bahasa dan konteks budaya, pembicaraan mengenai lingkungan dapat ditempatkan dalam pengalaman masyarakat regional, sekaligus dikaitkan dengan tuntutan global terhadap praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab. Materi tersebut mendapat respons dari mahasiswa dan dosen Program Studi Bahasa Melayu untuk Bisnis YRU, terutama karena isu keberlanjutan dan tanggung jawab sosial-lingkungan semakin relevan dengan perkembangan dunia bisnis.

Dalam konteks kelembagaan, Dekan FTIK UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag. memandang kegiatan akademik internasional semacam ini sebagai ruang untuk memperluas kontribusi fakultas terhadap persoalan nyata masyarakat.

“Internasionalisasi pendidikan tidak semestinya berhenti pada mobilitas akademik atau kerja sama antaruniversitas. Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan yang dikembangkan di perguruan tinggi dapat dipertemukan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat global. Isu lingkungan menjadi salah satu tantangan besar generasi hari ini, sehingga pendidikan perlu membangun bukan hanya kecakapan akademik, tetapi juga tanggung jawab etik dalam menjaga keberlanjutan kehidupan,” ujar Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag.

Menurut draf pernyataan tersebut, kolaborasi dengan Yala Rajabhat University juga memiliki nilai strategis karena mempertemukan institusi pendidikan di Asia Tenggara dalam persoalan yang melampaui batas negara. Krisis iklim, perubahan penggunaan lahan, tekanan terhadap air, dan persoalan keberlanjutan membutuhkan pertukaran pengetahuan yang semakin terbuka sekaligus sensitif terhadap kondisi lokal.

Dari Pertukaran Pengetahuan Menuju Kolaborasi Berkelanjutan

Visiting Lecture ini memperlihatkan bahwa kerja sama internasional perguruan tinggi dapat diarahkan pada persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kolaborasi tidak hanya menghasilkan pertukaran akademik, tetapi juga membuka ruang bagi riset lintas disiplin, keterlibatan mahasiswa, dan pengembangan perspektif baru dalam memahami persoalan lingkungan.

Pelibatan mahasiswa dalam diskusi dan penggalian realitas ekologis juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk melihat bagaimana konsep akademik diuji ketika berhadapan dengan kondisi lapangan dan perspektif masyarakat yang berbeda.

Kegiatan ini sekaligus mempertegas arah kolaborasi tim riset FTIK UIN Walisongo dan Yala Rajabhat University dalam memperluas kerja sama akademik dan riset lintas disiplin. Keterlibatan mahasiswa di dalamnya diarahkan untuk memperkuat kapasitas peneliti muda agar mampu merespons persoalan lingkungan secara kritis, solutif, dan berbasis realitas lapangan.

“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan ilmu pengetahuan hadir dalam percakapan tentang masa depan masyarakat dan bumi. Karena itu, kolaborasi internasional FTIK perlu terus bergerak dari sekadar pertukaran akademik menuju kerja bersama yang menghasilkan pengetahuan, pembelajaran, dan solusi yang relevan bagi masyarakat,” kata Prof. Abdul Rohman.

Pengalaman di Yala menunjukkan satu pelajaran penting: persoalan lingkungan global selalu memiliki wajah lokal. Ketika pendidikan mampu menghubungkan pengetahuan ilmiah, nilai keagamaan, realitas masyarakat, dan tanggung jawab profesional, ruang kelas dapat berkembang menjadi tempat lahirnya cara pandang baru tentang pembangunan.

Pada titik itulah internasionalisasi pendidikan memperoleh makna yang lebih substantif bukan sekadar memperluas jejaring antarnegara, tetapi mempertemukan pengetahuan dan pengalaman untuk menjawab persoalan bersama yang menentukan masa depan kawasan.

Exit mobile version