FITK

AI, Etika, dan Masa Depan Pendidikan Islam

Semarang — Sebuah momentum akademik penting berlangsung dalam ujian terbuka disertasi yang mengantarkan Nasikhin, M.Pd. meraih gelar doktor dalam Bidang Studi Islam. Ucapan selamat dan sukses disampaikan oleh Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag., Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Walisongo Semarang, kepada Dr. Nasikhin, M.Pd. atas keberhasilannya menyelesaikan ujian terbuka disertasi. Peristiwa ini menjadi penanda capaian personal seorang akademisi, sekaligus kontribusi ilmiah bagi pengembangan pendidikan agama Islam yang lebih kritis, etis, dan adaptif terhadap teknologi.

Fokus utama disertasi tersebut adalah literasi AI dalam Pendidikan Agama Islam abad ke-21, khususnya bagaimana mahasiswa memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan mengkritisi teknologi AI dalam konteks pembelajaran keagamaan. Penelitian ini menjadi relevan karena penggunaan AI dalam pendidikan semakin luas, sementara pemahaman kritis terhadap cara kerja, bias, keterbatasan, dan dampaknya masih belum merata.

Ketika Mahasiswa Belajar Menggunakan AI secara Bertanggungjawab

Disertasi Dr. Nasikhin mengangkat persoalan mendasar: bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan dalam Pendidikan Agama Islam tanpa menghilangkan dasar epistemologis, etika keilmuan, dan nilai-nilai keislaman. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif desain studi kasus, menggunakan teknik validasi melalui triangulasi sumber dan member checking, serta dianalisis dengan model tematik Creswell.

Riset ini membandingkan pengalaman mahasiswa di UIN Walisongo Semarang dan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan struktural dalam akses, pola penggunaan, dan dukungan institusional terhadap AI. Di UII, mahasiswa cenderung memiliki akses lebih luas terhadap layanan AI, termasuk penggunaan platform berbayar, pelatihan rutin, dan lingkungan teknologi yang lebih mendukung. Sementara itu, mahasiswa UIN Walisongo lebih banyak memanfaatkan platform gratis, mengembangkan strategi mandiri seperti prompt engineering, serta menggunakan AI untuk memperkuat moderasi beragama dan dialog antarbudaya.

Penelitian ini menemukan bahwa AI tidak hanya dipakai untuk mencari informasi, tetapi juga untuk mengembangkan empat keterampilan penting abad ke-21: berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Dalam berpikir kritis, mahasiswa menggunakan AI untuk membandingkan argumen dan menguji sumber. Dalam kreativitas, AI membantu menyusun narasi edukatif berbasis nilai Islam dan merancang media pembelajaran. Dalam komunikasi, AI digunakan untuk menyimulasikan respons audiens dan menyunting teks dakwah agar lebih kontekstual. Dalam kolaborasi, AI berperan sebagai koordinator virtual dalam kerja kelompok lintas ruang dan waktu.

Namun, penelitian ini juga menegaskan adanya risiko serius. Penggunaan AI dapat menimbulkan ketergantungan teknologis, homogenisasi gagasan, dominasi algoritma, dan melemahnya orisinalitas. Karena itu, literasi AI tidak cukup dipahami sebagai kemampuan teknis. Ia perlu mencakup kesadaran etik, kemampuan verifikasi, pemahaman bias algoritmik, serta tanggung jawab dalam menyebarkan pengetahuan keagamaan.

Model Literasi AI yang Etis, Integratif dan Responsif

Nilai penting dari penelitian ini terletak pada tawaran model literasi AI yang kontekstual, integratif, berbasis nilai, dan responsif terhadap ketimpangan struktural. Artinya, literasi AI dalam pendidikan Islam tidak boleh hanya diarahkan pada kemampuan memakai aplikasi, tetapi juga harus menumbuhkan kemampuan menilai kebenaran, menjaga etika digital, memahami keterbatasan teknologi, dan menempatkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti nalar manusia.

Capaian Dr. Nasikhin menjadi pesan kuat bahwa dunia akademik Islam tidak sedang menjauh dari teknologi, melainkan sedang belajar menempatkannya secara tepat. AI dapat menjadi mitra pembelajaran, tetapi tetap membutuhkan kendali manusia yang berilmu, beretika, dan bertanggung jawab. Dari ruang ujian terbuka ini, lahir satu gagasan penting: masa depan Pendidikan Agama Islam tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga oleh keberanian membimbing teknologi agar tetap berpihak pada ilmu, nilai, dan kemanusiaan.

Exit mobile version