FTIK UIN Walisongo Online, Semarang – Mengenakan toga pada Wisuda ke-102 UIN Walisongo Semarang, Sabtu (7/11/2026), menjadi momen istimewa bagi Dina Aini Qolbi. Wisudawati Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) angkatan 2022, asal Kaliwungu, Kabupaten Kendal ini berhasil menuntaskan pendidikan tinggi di tengah berbagai tantangan yang dihadapinya.

Wisuda periode November 2026 ini diikuti oleh 793 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan, terdiri atas 8 doktor, 27 magister, dan 758 sarjana. Dari jumlah tersebut, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan menjadi salah satu fakultas dengan jumlah lulusan terbanyak, yakni 153 sarjana. Di antara ratusan lulusan tersebut, perjalanan Dina Aini Qolbi menjadi kisah tersendiri tentang semangat menyelesaikan pendidikan dan pentingnya dukungan lingkungan kampus yang inklusif.

Sebagai mahasiswa pengguna kursi roda, Dina menghadapi kebutuhan aksesibilitas tersendiri selama menempuh pendidikan di UIN Walisongo. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar, mengikuti berbagai kegiatan akademik, dan menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana.

Dina mengungkapkan bahwa selama menjalani perkuliahan, ia mendapatkan dukungan dan perhatian dari lingkungan kampus. Mulai dari dosen, teman-teman, hingga pengelola program studi turut membantu memastikan dirinya dapat mengikuti kegiatan akademik.

Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah penyesuaian penempatan ruang kelas agar mudah diakses menggunakan kursi roda. Bantuan juga diberikan ketika menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), Kuliah Kerja Nyata (KKN), hingga proses penyelesaian skripsi.

“Setiap KRS-an juga selalu dibantu untuk mendapatkan ruangan yang bisa saya akses. PPL, KKN, semuanya dibantu. Bu Kajur dan Sekjur juga baik sekali,” ungkap Dina.

Perjalanan Dina menuju wisuda tidak hanya diwarnai tantangan dalam memenuhi kebutuhan aksesibilitas, tetapi juga ujian kehidupan. Saat tengah menyelesaikan skripsi, ia harus kehilangan sang ayah. Kehilangan tersebut menjadi masa yang berat dalam perjalanan akademiknya.

Di tengah situasi tersebut, perhatian dan bantuan dari pihak kampus menjadi dukungan berarti yang membantunya menyelesaikan tugas akhir hingga akhirnya berhasil meraih gelar sarjana.

“Bahkan saat skripsian juga sangat dibantu sekali. Waktu itu kebetulan ayah saya meninggal, kemudian saya dibantu untuk bisa menyelesaikan skripsi secepatnya. Dan akhirnya bisa wisuda,” tuturnya.

Bagi Dina, dukungan yang diberikan selama menjalani perkuliahan menjadi pengalaman berharga. Ia mengapresiasi kepedulian para dosen, pengelola program studi, serta teman-teman yang telah membantunya melewati berbagai tahapan pendidikan.

Di tengah kebahagiaan mengikuti prosesi wisuda, Dina juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan studi agar tidak mudah menyerah dan terus memperjuangkan cita-citanya.

“Buat teman-teman yang sekarang sedang wisuda, selamat. Buat yang belum, tetap semangat, kejar mimpi kalian, selesaikan skripsinya, supaya bisa membanggakan orang tua dan membuat mereka hadir di wisuda kalian. Pokoknya tetap semangat, UIN Walisongo terbaik,” pesannya.

Kisah Dina Aini Qolbi menjadi salah satu cerita inspiratif dalam Wisuda ke-102 UIN Walisongo. Perjalanannya mengajarkan bahwa setiap orang memiliki hak dan kesempatan untuk belajar, berkembang, serta meraih cita-cita. Dengan tekad, kesempatan yang setara, dan dukungan lingkungan yang inklusif, berbagai tantangan dapat dihadapi untuk mencapai masa depan yang diimpikan.

Bagi Dina, hari wisuda bukan sekadar akhir perjalanan akademik, melainkan bukti bahwa perjuangan panjangnya telah sampai pada sebuah pencapaian yang membanggakan.