Sebanyak 30 peserta International Class Program (ICP) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang, yang terdiri atas 24 mahasiswa dan enam dosen pendamping, mengikuti Academic Mobility Program ke tiga perguruan tinggi di Malang dan sekitarnya pada 30 September–2 Oktober 2026. Program tersebut membawa mahasiswa keluar dari ruang kelas untuk belajar langsung dari lingkungan akademik perguruan tinggi lain, sekaligus membuka ruang benchmarking pengelolaan kelas internasional dan penguatan jejaring antarlembaga.

Tiga perguruan tinggi yang menjadi tujuan adalah Universitas Negeri Malang (UM), UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan Universitas KH. Abdul Chalim. Melalui observasi pembelajaran, joint class, diskusi akademik, sharing session, serta kunjungan fasilitas, mahasiswa dan dosen FTIK memperoleh kesempatan membandingkan praktik akademik lintas institusi dan melihat secara langsung bagaimana program pendidikan serta kelas berorientasi internasional dikembangkan.

Mobilitas Akademik Global

Academic Mobility Program ICP dirancang sebagai bagian dari penguatan International Class Program FTIK UIN Walisongo Semarang, terutama dalam membangun kompetensi akademik, profesional, kemampuan beradaptasi, dan wawasan global mahasiswa. Dalam kerangka tersebut, pengalaman belajar tidak hanya dipahami sebagai aktivitas di ruang kuliah, tetapi juga sebagai proses bertemu dengan budaya akademik, sistem pembelajaran, mahasiswa, dosen, serta tata kelola pendidikan di institusi lain.

Pendekatan itu menjadi penting ketika pendidikan tinggi menghadapi kebutuhan untuk menyiapkan lulusan yang mampu bekerja dan berkolaborasi dalam lingkungan akademik yang semakin terbuka. Karena itu, FTIK menempatkan academic mobility sebagai ruang untuk melakukan benchmarking, mengenali praktik baik pembelajaran dan pengembangan kurikulum, sekaligus membangun jejaring dengan institusi yang memiliki pengalaman dalam pengembangan pendidikan berorientasi nasional maupun internasional.

Program ini juga ditempatkan dalam paradigma Wahdat al-‘Ulum atau Unity of Science yang menjadi landasan keilmuan UIN Walisongo. Dalam TOR kegiatan, paradigma tersebut dikaitkan dengan integrasi keilmuan, keterbukaan wawasan, dan orientasi kemanfaatan ilmu bagi kemanusiaan.

Dekan FTIK UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag, menjadi unsur pimpinan yang memberikan persetujuan kelembagaan terhadap pelaksanaan kunjungan tersebut. Dalam surat resmi kepada ketiga universitas tersebut, FTIK menyampaikan bahwa kunjungan merupakan bagian dari upaya memperkuat pengembangan ICP melalui Academic Mobility Program ke International Undergraduate Program (IUP).

“Academic mobility memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar langsung dari lingkungan akademik yang berbeda. Kami ingin mahasiswa ICP tidak hanya memiliki kompetensi yang kuat di dalam kelas, tetapi juga mampu berkomunikasi, berkolaborasi, dan beradaptasi dalam lingkungan akademik yang semakin global,” ujar Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag.

Di sisi lain, keterlibatan pimpinan fakultas dan program studi menunjukkan bahwa program ini tidak hanya ditujukan sebagai pengalaman perjalanan bagi mahasiswa. Delegasi juga melibatkan Dr. Ahmad Muthohar, M.Ag. selaku Wakil Dekan I, bersama pimpinan program studi dan pengelola akademik lainnya.

“Melalui academic mobility, mahasiswa dan pengelola program memiliki kesempatan untuk melihat secara langsung praktik akademik di perguruan tinggi lain. Benchmarking seperti ini penting agar kami tidak hanya bertukar pengalaman, tetapi juga memperoleh referensi konkret untuk memperkuat pembelajaran, pengelolaan kelas internasional, dan kualitas ICP FTIK,” ujar Dr. Ahmad Muthohar, M.Ag.

Benchmarking Program Internasional

Aktivitas akademik menjadi inti perjalanan. Setelah keberangkatan dari Semarang pada 30 September 2026, delegasi memulai agenda akademik di Universitas Negeri Malang pada 1 Oktober 2026. Program yang dirancang meliputi audiensi dengan pimpinan dan pengelola program, kuliah tamu atau joint class, sharing session atau diskusi kelompok terarah mengenai pengelolaan kelas internasional dan pembelajaran, serta kunjungan fasilitas akademik.

Surat permohonan kunjungan ke UM memberikan gambaran yang lebih spesifik mengenai orientasi kegiatan. Delegasi dijadwalkan mengikuti atau mengamati proses perkuliahan secara langsung melalui classroom observation/sit-in, dilanjutkan sharing session mengenai pengelolaan dan pengembangan International Undergraduate Program (IUP) serta kunjungan terhadap fasilitas pendukung program tersebut.

Model kunjungan seperti ini memberikan pengalaman yang lebih substantif dibandingkan kunjungan institusional yang hanya berfokus pada seremoni. Mahasiswa dapat melihat langsung bagaimana pembelajaran berlangsung, bagaimana lingkungan akademik dibangun, dan bagaimana program internasional dikelola. Sementara itu, dosen dan pengelola program memperoleh ruang untuk membandingkan praktik kurikulum, pembelajaran, pengelolaan mahasiswa, dan strategi internasionalisasi dengan institusi lain. Tujuan tersebut secara eksplisit menjadi salah satu manfaat yang dirancang dalam program.

Agenda kemudian berlanjut pada 2 Oktober 2026 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui courtesy visit dan sharing session bersama pimpinan serta pengelola program, joint class bersama mahasiswa dan sivitas akademika, serta kunjungan fasilitas akademik. Pada hari yang sama, delegasi melanjutkan perjalanan menuju Universitas KH. Abdul Chalim untuk menjalani kunjungan akademik, sharing session, dan dialog bersama pimpinan atau pengelola program.

Ketua Panitia, Agus Prayogo, M.Pd., Ph.D., tercatat sebagai penanggung jawab pelaksanaan kegiatan dalam TOR Academic Mobility Program ICP FTIK.

“Kegiatan ini kami rancang agar mahasiswa tidak hanya datang dan melihat, tetapi benar-benar terlibat dalam pengalaman akademik lintas kampus. Melalui joint class, sharing session, dan interaksi langsung dengan sivitas akademika perguruan tinggi mitra, mahasiswa diharapkan memperoleh perspektif baru yang dapat memperkuat kompetensi akademik, komunikasi, kolaborasi, dan kesiapan mereka menghadapi lingkungan pendidikan yang lebih luas,” ujarAgus Prayogo, M.Pd., Ph.D.

Dari sisi mahasiswa, manfaat program diarahkan pada empat aspek utama: memperluas wawasan akademik, mengenal praktik pembelajaran dan budaya akademik kampus lain, membangun jejaring keilmuan antarmahasiswa, serta meningkatkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, kepercayaan diri, dan kesiapan memasuki lingkungan akademik yang lebih luas.

Bagi dosen dan pengelola ICP, mobilitas akademik juga menyediakan bahan pembanding untuk melihat pengelolaan kelas internasional, kurikulum, pembinaan mahasiswa, serta praktik internasionalisasi. Interaksi tersebut sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kegiatan akademik lainnya.

Jejaring dan Pembelajaran Berkelanjutan

Nilai utama academic mobility tidak hanya terletak pada jumlah kampus yang dikunjungi, tetapi pada apa yang dibawa pulang setelah kegiatan selesai. Bagi mahasiswa, pengalaman memasuki kelas, berdialog dengan sivitas akademika kampus lain, dan melihat langsung lingkungan pendidikan berbeda dapat membentuk perspektif bahwa belajar di perguruan tinggi berlangsung dalam ekosistem yang jauh lebih luas daripada program studi sendiri.

Bagi FTIK, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi dan inspirasi dalam pengembangan ICP. TOR kegiatan menempatkan benchmarking pengelolaan program akademik dan kelas internasional, penguatan kurikulum dan pembelajaran, serta perluasan jejaring kelembagaan sebagai bagian penting dari manfaat program.

Orientasi itu juga membuat keberlanjutan menjadi bagian penting setelah mobilitas selesai. FTIK menargetkan interaksi yang terbentuk tidak berhenti pada pertukaran informasi, tetapi berkembang menjadi kerja sama pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, mobilitas mahasiswa, pengembangan kurikulum, maupun program akademik lain.

Dalam konteks yang lebih luas, program mobilitas semacam ini menunjukkan bahwa internasionalisasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dari perjalanan lintas negara. Pengalaman global juga dapat dibangun melalui kemampuan mahasiswa untuk memasuki lingkungan akademik yang berbeda, berdialog dengan komunitas keilmuan lain, membandingkan praktik pendidikan, dan belajar beradaptasi dalam situasi baru.

Karena itu, ukuran keberhasilan Academic Mobility Program ICP FTIK tidak semata-mata terletak pada terselenggaranya perjalanan selama tiga hari. Ukuran yang lebih berarti adalah sejauh mana pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi perbaikan pembelajaran, penguatan pengelolaan ICP, peningkatan kapasitas mahasiswa, dan kolaborasi antarkampus yang berkelanjutan. TOR kegiatan sendiri menempatkan program ini sebagai langkah untuk membangun lingkungan akademik yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berorientasi global tanpa meninggalkan landasan Wahdat al-‘Ulum.

Pada akhirnya, mobilitas akademik memperoleh maknanya ketika mahasiswa tidak hanya kembali dengan dokumentasi perjalanan, tetapi dengan cara pandang yang lebih luas tentang pendidikan, kemampuan berinteraksi melampaui lingkungan kampusnya sendiri, dan kesadaran bahwa kualitas akademik tumbuh melalui keterbukaan untuk belajar dari praktik baik institusi lain. Bagi perguruan tinggi, pengalaman itulah yang dapat mengubah sebuah kunjungan menjadi jejaring pengetahuan dan kerja sama yang memiliki dampak jauh melampaui tiga hari kegiatan.