Makalah Mohammad Yusuf Setyawan, Dosen dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, berhasil masuk dalam 50 besar karya terbaik The 4th International Conference on Cultures & Languages (ICCL 2026) melalui penelitian yang menawarkan perspektif baru dalam hubungan antara studi Al-Qur’an dan perkembangan metodologi linguistik modern.

Melalui artikel berjudul “نحو إطارٍ منهجيٍّ للإفادة من المناهج اللسانية الغربية في الدراسات القرآنية: البلاغة السامية أنموذجًا” (Towards a Methodological Framework for Benefiting from Western Linguistic Approaches in Qur’anic Studies: Semitic Rhetoric as a Model), Setyawan mengkaji bagaimana pendekatan linguistik Barat dapat dimanfaatkan dalam studi Al-Qur’an secara kritis tanpa kehilangan karakteristik teks dan tradisi intelektual Islam. Artikel tersebut diterbitkan dalam prosiding The 4th International Conference on Cultures & Languages (ICCL 2026).

Penelitian ini tidak mengambil posisi menerima atau menolak metode Barat secara mutlak. Sebaliknya, penelitian menawarkan pendekatan evaluatif yang memungkinkan suatu metode diuji berdasarkan kesesuaiannya dengan objek kajian, kekuatan analisisnya, serta kontribusinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Dalam artikel tersebut, Setyawan menegaskan bahwa penggunaan metode modern harus dilakukan melalui proses seleksi dan pengujian. Menurutnya, “pemanfaatan pendekatan linguistik Barat tidak berarti menerima seluruh latar belakang filosofisnya, sebagaimana kritik terhadap latar tersebut juga tidak berarti harus menolak seluruh perangkat analitis yang dimilikinya.”

Menjawab Tantangan Integrasi Metode Modern dan Tradisi Keilmuan Islam

Perkembangan studi Al-Qur’an kontemporer menunjukkan meningkatnya penggunaan pendekatan linguistik, sastra, dan analisis wacana yang berkembang dalam tradisi akademik modern. Pendekatan tersebut memberikan peluang untuk memahami aspek-aspek seperti hubungan antarayat, struktur teks, koherensi, dan proses pembentukan makna. Namun, perpindahan metode dari satu tradisi keilmuan ke tradisi lain tidak dapat dilakukan secara sederhana karena setiap metode memiliki latar epistemologis yang membentuk cara pandangnya terhadap teks.

Penelitian Setyawan berangkat dari persoalan tersebut dengan menempatkan Semitic Rhetoric (البلاغة السامية) sebagai model analisis. Pendekatan ini dikembangkan terutama melalui karya Michel Cuypers yang berupaya membaca struktur Al-Qur’an melalui pola hubungan antarbagiannya, seperti paralelisme, simetri, dan struktur melingkar.

Menurut Setyawan, persoalan utama bukan hanya apakah sebuah metode mampu menemukan pola tertentu dalam teks, tetapi bagaimana pola tersebut dapat dibuktikan secara ilmiah.

“Nilai sebuah metode tidak hanya terletak pada kemampuannya menghasilkan pembacaan baru, tetapi juga pada kejelasan prosedur, keterlacakan bukti, dan kemungkinan hasilnya untuk diuji serta didiskusikan secara akademik.” kata Setyawan.

Pandangan tersebut sejalan dengan kritik terhadap beberapa penerapan retorika Semitik yang mempertanyakan bagaimana suatu struktur teks ditentukan dan sejauh mana pola tersebut dapat diverifikasi oleh penelitian lain.

Lima Prinsip Kerangka Metodologis untuk Pemanfaatan Pendekatan Linguistik Barat

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis analisis teks dan dokumen dengan metode analitis-kritis. Sumber penelitian mencakup karya utama mengenai retorika Semitik, kajian kritis terhadap penerapannya, serta literatur klasik Islam yang berkaitan dengan konsep nazm, munāsabah, dan konteks dalam memahami struktur Al-Qur’an.

Hasil penelitian menghasilkan lima prinsip utama dalam pemanfaatan metode linguistik Barat dalam studi Al-Qur’an.

Pertama, memperhatikan kekhususan teks Al-Qur’an, yaitu memastikan bahwa analisis dimulai dari karakteristik teks, bukan dari pemaksaan model teori tertentu. Kedua, memisahkan alat analisis dari latar belakang epistemologisnya, sehingga suatu teknik dapat digunakan tanpa harus menerima seluruh asumsi filosofis yang menyertainya. Ketiga, membangun dialog dengan tradisi keilmuan Islam, terutama konsep-konsep yang telah berkembang dalam ilmu balaghah dan tafsir. Keempat, menjamin keterverifikasian analisis, sehingga proses penelitian dapat ditelusuri dan diuji. Kelima, menghasilkan kontribusi pengetahuan baru, bukan sekadar mengulang model yang telah ada.

Setyawan menjelaskan bahwa kelima prinsip tersebut menjadi dasar untuk mengubah pola hubungan antara ilmu modern dan tradisi Islam dari hubungan penerimaan atau penolakan menjadi hubungan dialogis dan kritis.

“Metode tidak seharusnya dipindahkan sebagai sebuah sistem yang utuh dari satu konteks ke konteks lain, tetapi perlu dibongkar, diuji, dan dipilih bagian-bagiannya yang memiliki relevansi ilmiah.” pungkas Setyawan.

Kerangka ini kemudian dirumuskan sebagai proses: memahami karakter teks, mengurai komponen metode, mendialogkannya dengan tradisi keilmuan, menguji prosedur dan hasil, kemudian menentukan nilai tambah pengetahuan yang dihasilkan.

Dari ICCL 2026 Menuju Pengembangan Studi Islam yang Lebih Dialogis

Keberhasilan masuk dalam 50 besar ICCL 2026 menunjukkan bahwa penelitian mengenai hubungan antara tradisi keilmuan Islam dan perkembangan ilmu modern memiliki relevansi dalam diskursus akademik internasional. Kajian ini tidak hanya berbicara mengenai metode membaca Al-Qur’an, tetapi juga mengenai bagaimana sebuah tradisi akademik membangun posisi kritis dalam menghadapi perkembangan pengetahuan global.

Penelitian Setyawan tidak menawarkan klaim bahwa seluruh metode linguistik Barat dapat diterapkan secara langsung dalam studi Al-Qur’an. Sebaliknya, penelitian menempatkan kerangka metodologis tersebut sebagai model yang masih perlu diuji pada pendekatan dan objek kajian lainnya.

Pada akhirnya, kontribusi utama penelitian ini terletak pada perubahan cara melihat hubungan antara ilmu modern dan tradisi Islam. Pertanyaan yang diajukan bukan lagi sekadar apakah suatu metode berasal dari Barat atau Islam, melainkan apakah metode tersebut dapat memberikan pemahaman yang lebih kuat, dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dan mampu memperkaya kajian terhadap teks Al-Qur’an.

Capaian sebagai salah satu karya terbaik ICCL 2026 menjadi pengakuan terhadap upaya menghadirkan penelitian yang tidak hanya mengikuti perkembangan akademik global, tetapi juga berusaha membangun dialog kritis antara berbagai tradisi pengetahuan.